Klaim Diabetes Sembuh Tanpa Obat: Hoaks Berbahaya yang Perlu Diwaspadai
Baca dalam 60 detik
- Video viral yang mengklaim diabetes tipe 1 dan 2 bisa sembuh tanpa obat telah dibantah oleh tenaga medis.
- Penderita diabetes tipe 1 memerlukan suntikan insulin seumur hidup, sementara tipe 2 membutuhkan kombinasi gaya hidup dan obat.
- Masyarakat diimbau tidak mudah percaya pada informasi kesehatan tanpa verifikasi, karena dapat membahayakan pasien.

Sebuah video yang beredar di media sosial mengklaim bahwa diabetes tipe 1 dan tipe 2 dapat disembuhkan tanpa obat, hanya dengan terapi sentuhan. Klaim ini langsung menuai bantahan dari kalangan medis karena tidak memiliki dasar ilmiah dan berpotensi menyesatkan penderita diabetes.
Video tersebut memperlihatkan seorang pria yang menjalani terapi dengan sentuhan jari telunjuk di dada, yang tampak membuatnya kesakitan. Namun, menurut dokter penyakit dalam Rumah Sakit Zainab Pekanbaru, Ayu Pathya, klaim tersebut adalah hoaks. Ia menegaskan bahwa diabetes tipe 1 memerlukan suntikan insulin untuk mengontrol gula darah, dan tidak bisa digantikan oleh terapi alternatif semacam itu.
Sementara itu, diabetes tipe 2 membutuhkan pendekatan yang lebih kompleks, bergantung pada kondisi pasien. Modifikasi gaya hidup, pemberian obat oral, hingga insulin mungkin diperlukan. Kesembuhan tidak bisa dijamin dengan metode instan, melainkan melalui pengelolaan jangka panjang yang ketat.
Fenomena penyebaran hoaks kesehatan seperti ini bukanlah hal baru di Indonesia. Masyarakat yang putus asa mencari kesembuhan sering menjadi sasaran empuk informasi palsu. Padahal, menghentikan pengobatan medis yang diresepkan dokter dapat berakibat fatal, seperti komplikasi ginjal, kebutaan, hingga amputasi.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengidentifikasi video tersebut sebagai konten hoaks dan mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi. Sumber terpercaya seperti Kementerian Kesehatan, IDI, atau rumah sakit resmi harus menjadi rujukan utama sebelum mempercayai klaim pengobatan.
Ke depannya, literasi digital dan kesehatan masyarakat perlu terus ditingkatkan agar tidak mudah terjebak pada janji kesembuhan instan. Pertanyaan yang perlu dijawab: bagaimana cara efektif mengedukasi masyarakat agar lebih kritis terhadap informasi kesehatan yang beredar di media sosial?



