Diet Anti-Inflamasi Terbukti Turunkan Risiko Demensia, Termasuk pada Pasien dengan Tanda Awal Alzheimer
Baca dalam 60 detik
- Studi di JAMA Network Open menemukan bahwa pola makan rendah inflamasi menurunkan risiko demensia hingga 29% pada lansia dengan biomarker Alzheimer positif.
- Manfaat terbesar terlihat pada individu yang sudah memiliki penanda biologis penyakit, sementara diet Mediterania hanya efektif pada mereka dengan risiko awal rendah.
- Temuan ini memperkuat rekomendasi gaya hidup sehat sebagai strategi protektif, meskipun belum bisa membuktikan hubungan kausal langsung.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di JAMA Network Open mengungkapkan bahwa pola makan dengan potensi inflamasi rendah dapat menurunkan risiko demensia, bahkan pada individu yang sudah menunjukkan tanda-tanda awal Alzheimer melalui biomarker darah. Temuan ini memberikan harapan baru di tengah proyeksi lonjakan jumlah penderita demensia global yang diperkirakan mencapai 150 juta jiwa pada 2050.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Ljubljana dan Karolinska Institutet ini menganalisis data 1.865 partisipan berusia 60 tahun ke atas dari studi longitudinal Swedia SNAC-K. Selama 15 tahun masa pemantauan, 240 partisipan didiagnosis mengalami demensia. Namun, mereka yang menjalani diet anti-inflamasi—kaya buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan lemak sehat—memiliki risiko demensia 21% hingga 29% lebih rendah, terutama pada kelompok dengan kadar biomarker Alzheimer seperti p-tau 217, NFL, dan GFAP yang tinggi.
Menariknya, diet Mediterania yang juga dikenal sehat hanya memberikan perlindungan signifikan pada partisipan dengan kadar biomarker awal yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan diet perlu disesuaikan dengan profil risiko individu. “Bagi mereka yang sudah memiliki perubahan terkait Alzheimer, mengurangi beban inflamasi bisa memperlambat proses penurunan kognitif,” ujar Emer MacSweeney, konsultan neuroradiologis yang tidak terlibat dalam studi.
Peneliti utama Anja Mrhar menekankan bahwa studi ini bersifat observasional sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. “Kami tidak bisa mengatakan bahwa perubahan pola makan akan mencegah demensia, tetapi temuan ini konsisten dengan pandangan bahwa kualitas diet tetap relevan untuk kesehatan otak,” katanya. Meski demikian, para ahli sepakat bahwa pola makan yang menekan inflamasi sistemik—melalui jalur gut-brain-immune axis—dapat meningkatkan ketahanan otak terhadap kerusakan neurodegeneratif.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Pola makan tradisional Indonesia yang kaya akan sayuran, rempah, dan ikan laut sebenarnya sudah mengandung prinsip anti-inflamasi. Namun, urbanisasi dan konsumsi makanan ultraproses yang meningkat justru berpotensi memicu inflamasi kronis. “Kebiasaan diet yang sama yang melindungi jantung juga bermanfaat bagi otak,” tambah MacSweeney, merekomendasikan pengurangan gula tambahan, daging olahan, dan alkohol.
Ke depan, para peneliti berharap studi lanjutan dapat mengonfirmasi apakah intervensi diet pada tahap awal perubahan biomarker benar-benar mampu mengubah perjalanan penyakit. Sampai saat itu tiba, Mrhar mengingatkan agar temuan ini tidak ditafsirkan berlebihan. “Yang terpenting adalah konsistensi pola makan sehat selama bertahun-tahun, bukan suplemen ajaib,” pungkasnya. Pertanyaan yang masih menggantung: akankah panduan gizi nasional di Indonesia mulai secara eksplisit merekomendasikan diet anti-inflamasi untuk lansia?



