Piala Dunia 2026: Inggris Gagal Amankan Tiket ke 32 Besar Usai Ditahan Ghana
Baca dalam 60 detik
- Timnas Inggris hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Ghana di matchday kedua Grup L, sehingga gagal memastikan lolos ke babak 32 besar lebih awal.
- Dominasi penguasaan bola Inggris tak berbuah gol karena pertahanan rapat Ghana dan penampilan gemilang kiper Benjamin Asare, yang menggantikan Lawrence Ati Zigi yang cedera.
- Hasil imbang ini membuat persaingan di Grup L masih terbuka; Inggris akan menghadapi Panama pada laga pamungkas, sementara Ghana berduel dengan Kroasia.

Timnas Inggris harus menunda pesta lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah ditahan imbang tanpa gol oleh Ghana di Boston Stadium, dalam laga matchday kedua Grup L yang berlangsung ketat.
Harry Kane, yang mengawali turnamen dengan torehan 10 gol di Piala Dunia—menyamai rekor Gary Lineker—gagal menambah pundi-pundi golnya. Pelatih Thomas Tuchel melakukan dua perubahan dari laga pembuka kontra Kroasia, dengan menurunkan Marc Guéhi dan Djed Spence menggantikan John Stones serta Nico O'Reilly. Sementara itu, Ghana di bawah asuhan Carlos Queiroz juga melakukan rotasi: Thomas Partey kembali ke starting eleven dan kiper Benjamin Asare dipercaya mengisi posisi Lawrence Ati Zigi yang cedera.
Sejak menit awal, Inggris mendominasi penguasaan bola. Statistik mencatat Ghana nyaris tak menyentuh bola di sepuluh menit pertama. Declan Rice menjadi motor serangan, beberapa kali menguji pertahanan Ghana, termasuk tendangan bebas yang melambung di atas mistar. Setelah jeda minum, tekanan Inggris terus berlanjut, namun pertahanan massal Ghana yang disiplin membuat peluang bersih sulit tercipta. Sundulan Rice dari umpan Noni Madueke pada menit ke-37 masih melebar, dan babak pertama pun berakhir 0-0.
Babak kedua berjalan dengan pola serupa. Inggris terus mendominasi, namun Ghana sesekali mengancam lewat serangan balik. Pada menit ke-50, Marvin Senaya nyaris lolos dari jebakan offside setelah menerima umpan panjang, tetapi Djed Spence dengan sigap memotong lajunya. Inggris membalas dengan serangkaian peluang: tembakan Madueke diblok, dan upaya Anthony Gordon berhasil diamankan Asare. Memasuki menit-menit akhir, Inggris meningkatkan tekanan. Bukayo Saka yang masuk sebagai pemain pengganti melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti, namun Asare melakukan penyelamatan gemilang. Sundulan Nico O'Reilly kemudian menghantam mistar gawang, dan bola rebound jatuh ke kaki Kane yang hanya berjarak enam yard—namun tendangan kaki kiri Kane justru melambung di atas gawang. Peluang terakhir Inggris datang dari sundulan Guéhi yang kembali diblok di garis gawang.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan betapa pentingnya disiplin taktik dan mentalitas pantang menyerah—nilai yang kerap dikampanyekan oleh pelatih-pelatih lokal. Pertahanan rapat Ghana yang dipimpin Thomas Partey dan kiper debutan Asare bisa menjadi inspirasi bagi tim-tim Asia Tenggara yang kerap menghadapi raksasa Eropa. Selain itu, kegagalan Inggris memanfaatkan peluang menjadi pengingat bahwa sepak bola tak selalu dimenangkan oleh penguasaan bola semata.
Dengan hasil ini, Grup L masih terbuka lebar. Inggris akan menghadapi Panama pada laga terakhir, 27 Juni, sementara Ghana berhadapan dengan Kroasia. Kedua tim masih berpeluang lolos, dan segalanya bisa berubah di menit-menit akhir. Pertanyaannya, akankah Inggris bangkit dari kekecewaan ini atau justru tersingkir lebih awal?



