Kontroversi Aturan Tiebreak Piala Dunia: Panama Tereliminasi Sebelum Laga Pamungkas
Baca dalam 60 detik
- FIFA menerapkan aturan tiebreak baru yang mengutamakan hasil head-to-head, membuat Panama tersingkir sebelum laga terakhir grup.
- Pelatih Panama, Thomas Christiansen, menilai aturan ini mengurangi daya saing turnamen karena tim sudah tidak punya motivasi.
- Laga Panama vs Inggris hanya menjadi ajang gengsi, sementara Inggris masih berpeluang memuncaki grup.

Pelatih Panama, Thomas Christiansen, menyayangkan kebijakan baru FIFA dalam aturan tiebreak yang membuat timnya secara matematis tersingkir sebelum menjalani pertandingan terakhir Grup L melawan Inggris, Sabtu (26/6) waktu setempat. Christiansen menilai regulasi ini justru merusak semangat kompetisi karena menghilangkan elemen kejutan dan drama yang biasanya mewarnai fase grup Piala Dunia.
Panama takluk 0-1 dari Ghana dan Krosia di dua laga awal, sehingga meskipun mampu mengalahkan Inggris, mereka tetap gagal lolos. FIFA kini menggunakan hasil head-to-head sebagai kriteria pertama penentuan peringkat, menggantikan selisih gol. Akibatnya, Panama sudah tidak memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan poin dari Ghana dan Krosia yang sama-sama mengoleksi tiga angka.
โSungguh disayangkan, sebelum pertandingan ini kami sudah tersingkir. Itu menghilangkan kegembiraan di pihak kami,โ ujar Christiansen dalam konferensi pers, Jumat (25/6). Ia menambahkan bahwa aturan baru ini membuat laga terakhir grup menjadi kurang berarti, kecuali bagi tim yang masih memperebutkan posisi puncak. โIni tidak baik untuk kompetisi itu sendiri,โ tegasnya.
Di sisi lain, Inggris masih memiliki motivasi besar untuk meraih kemenangan demi memastikan posisi puncak grup. The Three Lions sebelumnya menahan imbang Ghana 0-0 setelah menekuk Krosia 4-2 di laga perdana. Christiansen mengakui bahwa atmosfer pertandingan akan didominasi oleh pendukung Inggris, dan timnya hanya ingin menutup turnamen dengan catatan positif.
โBesok kami ingin meninggalkan kesan baik dan membuat sejarah, semoga sejarah yang positif, bukan negatif,โ kata Christiansen. Ia juga mengingatkan bahwa keikutsertaan Panama di Piala Dunia edisi kali ini merupakan yang kedua kalinya, sebuah pencapaian yang patut dibanggakan meski harus berakhir pahit.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, polemik aturan tiebreak ini menjadi pengingat betapa pentingnya setiap detail regulasi dalam menentukan nasib tim. Di level Asia, aturan serupa juga diterapkan di berbagai turnamen, termasuk Piala Asia. Ke depannya, FIFA mungkin perlu mengevaluasi kembali dampak aturan ini terhadap daya tarik kompetisi, terutama di fase grup yang seharusnya penuh kejutan hingga menit akhir.



