Didier Deschamps Tinggalkan Timnas Prancis di Piala Dunia Usai Ibu Meninggal
Baca dalam 60 detik
- Pelatih kepala Prancis Didier Deschamps mendapat izin pulang ke Prancis setelah ibunda tercinta berpulang, membuatnya absen pada laga pamungkas fase grup Piala Dunia 2026.
- Asisten pelatih Guy Stephan akan memimpin skuad Les Bleus saat menghadapi Norwegia, meski Prancis sudah memastikan tiket ke babak gugur.
- Kepergian Deschamps menyisakan ruang kepemimpinan yang harus diisi tim pelatih, menjadi ujian mental bagi pemain yang tengah on fire di turnamen.

Pelatih kepala tim nasional Prancis, Didier Deschamps, harus meninggalkan skuadnya di tengah perhelatan Piala Dunia 2026 setelah menerima kabar duka: ibunda tercinta meninggal dunia. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) mengonfirmasi bahwa Deschamps telah diberi izin untuk terbang kembali ke Prancis guna menghadiri pemakaman sang ibu.
Kabar ini tentu menjadi pukulan berat bagi Deschamps yang dikenal memiliki ikatan emosional kuat dengan keluarga. Pelatih berusia 57 tahun itu mendapat kabar duka pada Selasa pagi waktu setempat, dan langsung mendapat restu dari Presiden FFF Philippe Diallo untuk meninggalkan turnamen sementara waktu. Selama ketidakhadirannya, kursi pelatih akan diisi oleh asistennya, Guy Stephan, yang sudah lama menjadi tangan kanan Deschamps di tim nasional.
Prancis sendiri sudah memastikan langkah ke babak gugur setelah meraih kemenangan meyakinkan atas Senegal (3-1) dan Irak (3-0) di dua laga awal Grup I. Pertandingan terakhir fase grup melawan Norwegia pada Jumat di Boston hanya akan menentukan juara grup, bukan kelolosan. Meski demikian, absennya sosok sentral seperti Deschamps bisa memengaruhi atmosfer tim, terutama dalam menjaga ritme permainan yang sudah terbangun.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada pentingnya keseimbangan antara karier dan keluarga. Di tengah tekanan turnamen global, keputusan Deschamps untuk pulang menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan tetap di atas segalanya. Hal ini juga menjadi cermin bagi klub-klub dan federasi di Tanah Air untuk memberikan ruang bagi pelatih atau pemain yang mengalami musibah serupa.
Deschamps bukan nama asing di pentas sepak bola dunia. Sebagai kapten, ia memimpin Prancis juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Sebagai pelatih, ia membawa Les Bleus ke puncak dunia pada 2018 dan nyaris mengulang sukses di 2022 sebelum dikalahkan Argentina di final. Pengalaman dan ketenangannya akan sangat dirindukan di pinggir lapangan, meski hanya untuk beberapa hari.
Pertandingan melawan Norwegia akan menjadi ujian bagi Guy Stephan untuk membuktikan bahwa sistem yang dibangun Deschamps berjalan tanpa hambatan. Para pemain Prancis, yang sebagian besar bermain di klub-klub top Eropa, diharapkan tetap profesional dan fokus. Namun, pertanyaan besarnya: akankah kehilangan figur sentral seperti Deschamps memengaruhi performa tim di babak gugur nanti?



