Pemain Impor Mendominasi Piala Dunia 2026: Hampir Seperempat Skuad Lahir di Luar Negeri
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 mencatat rekor baru dengan 23% pemain lahir di luar negara yang dibela, tertinggi dalam sejarah turnamen.
- Fenomena ini didorong oleh aturan FIFA yang longgar, diaspora global, dan strategi negara seperti Maroko yang memanfaatkan pemain keturunan.
- Di Indonesia, tren ini relevan dengan upaya naturalisasi pemain untuk Timnas, namun juga memicu perdebatan identitas dan loyalitas.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mencatat fenomena unik: hampir seperempat dari seluruh pemain yang berlaga lahir di luar negara yang mereka bela. Data resmi FIFA menunjukkan 289 dari 1.248 pemain—atau 23 persen—adalah 'pemain impor', menjadikan edisi ini sebagai turnamen dengan proporsi pemain lintas negara tertinggi sepanjang sejarah.
Fenomena ini bukan sekadar angka. Dalam laga Maroko melawan Brasil, misalnya, seluruh pemain yang turun di lapangan selama 25 menit pertama tidak ada yang lahir di Maroko. Bahkan, Ibrahim Mbaye, pemain kelahiran Prancis, mencetak gol untuk Senegal melawan negara kelahirannya sendiri. Momen serupa terjadi pada 2022 saat Breel Embolo dari Swiss, yang lahir di Kamerun, menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol ke gawang negara asalnya.
Hanya delapan dari 48 tim yang tidak memiliki pemain lahir di luar negeri. Curacao, debutan Piala Dunia, hanya memiliki satu pemain asli pulau Karibia itu dalam skuad 26 pemainnya. Sebaliknya, Qatar membawa pemain dari sepuluh negara berbeda, mulai dari Afrika hingga Amerika Selatan. Michael Olise, gelandang Bayern Munich kelahiran London, memilih membela Prancis, negara asal ibunya, sementara Antonee Robinson, bek Amerika Serikat, lahir di Milton Keynes, Inggris.
Menurut Profesor Gijsbert Oonk, sejarawan migrasi dari Erasmus University, tren ini mencerminkan pola migrasi global. "Hampir 4% populasi dunia tinggal di negara tempat mereka tidak dilahirkan. Angka ini lebih tinggi pada pekerja terampil dan atlet elit," ujarnya. Aturan FIFA yang longgar turut mendorong perpindahan: sejak 2004, pemain bisa membela satu negara di level junior dan beralih ke negara lain di senior, asalkan memiliki koneksi darah atau tinggal minimal dua tahun (kini lima tahun).
Maroko menjadi contoh sukses pemanfaatan diaspora. Pada 2010-an, negara itu mengirim pemandu bakat ke Eropa untuk merekrut pemain keturunan Maroko. Hasilnya, Maroko menjadi negara Afrika pertama yang lolos ke semifinal Piala Dunia pada 2022, dengan dua dari tiga penendang penalti kemenangan lahir di Belanda dan Spanyol. "Ini kisah negara yang memperlakukan diaspora sebagai bagian penting dari sistem sepak bolanya," kata Dr. Myriam Cherti, peneliti senior di Oxford University.
Namun, praktik 'flag-choosing' ini tak lepas dari kontroversi. Sepp Blatter, mantan presiden FIFA, pernah memperingatkan bahaya tim yang dipenuhi pemain naturalisasi Brasil. Diego Costa, penyerang Spanyol kelahiran Brasil, dicecar sorakan penonton saat Piala Dunia 2014 di Brasil. Di kalangan akademisi, perdebatan masih berlangsung: ada yang menganggapnya mengikis identitas tim nasional, sementara yang lain melihatnya sebagai hak pekerja.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan dengan program naturalisasi yang tengah digalakkan PSSI. Sejumlah pemain keturunan seperti Jordi Amat dan Sandy Walsh telah memperkuat Timnas. Namun, seperti di negara lain, kebijakan ini memicu diskusi tentang identitas dan kesempatan bagi pemain lokal. Dr. Cherti menegaskan, "Tim nasional tidak lagi sekadar cermin populasi di dalam perbatasan, tetapi juga cermin migrasi, sejarah, dan mobilitas global." Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu memanfaatkan diaspora tanpa kehilangan jati diri?



