Protes Suporter Lazio Memuncak, Lotito Beli Klub Lain dan Picu Konflik Regulasi
Baca dalam 60 detik
- Suporter Lazio akan menggelar aksi unjuk rasa besar pada 2 Juli sebagai bentuk protes terhadap kebijakan presiden klub.
- Claudio Lotito resmi mengakuisisi Reggina, klub yang bangkrut dan kini bermain di Serie D, memicu potensi benturan aturan kepemilikan ganda.
- Regulasi baru FIGC melarang satu orang memiliki lebih dari satu klub di liga profesional, namun kasus serupa De Laurentiis mendapat pengecualian hingga 2028.

Ketegangan antara suporter Lazio dan presiden klub, Claudio Lotito, mencapai titik didih baru. Rencana aksi protes massal pada 2 Juli mendatang menjadi puncak kemarahan yang sudah lama terpendam, terutama setelah kabar akuisisi klub lain oleh Lotito memicu kekhawatiran akan konflik kepentingan dan pelanggaran regulasi.
Sejak beberapa bulan terakhir, para suporter keras Lazio, yang dikenal sebagai ultras, telah memboikot pertandingan kandang di Stadio Olimpico. Aksi diam mereka membuat tribun stadion nyaris kosong, bahkan pada laga-laga besar Serie A. Boikot hanya dihentikan sementara untuk beberapa pertandingan, termasuk final Coppa Italia melawan Inter Milan. Para pemboikot adalah pemegang tiket musiman yang telah membayar penuh, sehingga kerugian finansial tidak menjadi pertimbangan utama mereka.
Kemarahan suporter semakin memuncak setelah pengumuman bahwa Lotito telah menyelesaikan pembelian Reggina, klub yang sebelumnya dinyatakan bangkrut. Langkah ini dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap kepentingan Lazio dan memicu pertanyaan serius terkait kepatuhan terhadap regulasi sepak bola Italia. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) baru-baru ini memberlakukan aturan yang melarang satu individu memiliki lebih dari satu klub di liga profesional. Saat ini Reggina masih berkompetisi di Serie D (kasta keempat), namun jika berhasil promosi ke Serie C, Lotito akan dihadapkan pada pilihan sulit: melepas Lazio atau Reggina.
Kasus kepemilikan ganda sebenarnya bukan hal baru di Italia. Aurelio De Laurentiis, presiden Napoli, juga mengendalikan Bari. Namun, karena akuisisi Bari terjadi sebelum aturan baru diberlakukan, De Laurentiis diberikan masa transisi hingga musim 2028-2029 untuk menyelesaikan masalah tersebut. Situasi Lotito berbeda karena pembelian Reggina dilakukan setelah aturan baru berlaku, sehingga potensi sanksi bisa lebih cepat dijatuhkan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya regulasi yang ketat dalam kepemilikan klub. Di Indonesia, fenomena kepemilikan ganda juga sempat menjadi perdebatan, terutama terkait kelompok usaha yang memiliki beberapa klub. Jika tidak diatur dengan jelas, konflik kepentingan dapat merusak integritas kompetisi. Langkah FIGC memberikan tenggat waktu bagi De Laurentiis menunjukkan bahwa regulasi dapat diterapkan secara bertahap, namun tetap harus ada kepastian hukum.
Ke depan, aksi protes suporter Lazio pada 2 Juli akan menjadi ujian bagi Lotito. Apakah ia akan merespons tuntutan suporter atau justru memperdalam konflik dengan akuisisi Reggina? Sementara itu, bola panas kini berada di tangan FIGC: apakah mereka akan menegakkan aturan secara konsisten atau memberikan kelonggaran seperti pada kasus De Laurentiis? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan masa depan Lazio dan Reggina, tetapi juga menjadi preseden bagi tata kelola klub di Italia.



