Konser One Love Manchester Jadi Titik Balik: Frankie Grande Cerita Perjuangan Melawan Adiksi
Baca dalam 60 detik
- Frankie Grande mengaku konser amal One Love Manchester 2017 menjadi momen krusial yang mendorongnya masuk rehabilitasi.
- Setelah delapan tahun hidup bersih, ia mengaku masih dihantui ketakutan akan kambuh yang bisa berakibat fatal.
- Hubungannya dengan adiknya, Ariana Grande, kini pulih dan menjadi sumber kekuatan dalam pemulihannya.

Konser amal One Love Manchester yang digelar Ariana Grande pada 2017 tak hanya menjadi respons atas tragedi bom di Manchester Arena, tetapi juga menjadi titik balik bagi kakak tirinya, Frankie Grande, dalam pertarungannya melawan kecanduan alkohol dan narkoba. Dalam wawancara terbaru dengan People, Frankie mengungkapkan bahwa peristiwa itu memaksanya menghadapi rasa malu dan bersalah yang selama ini ia coba lari dari dengan menggunakan zat adiktif.
Frankie, yang kini berusia 43 tahun, menceritakan bahwa dirinya merasa tidak berguna dan terputus dari keluarga saat menyaksikan konser tersebut. Perasaan itu, menurutnya, tidak bisa lagi diatasi dengan minuman keras atau obat-obatan terlarang. "Di kamar hotel di London, tidak ada jumlah alkohol atau narkoba yang bisa membuatku melarikan diri dari perasaan itu. Rasa malu dan bersalah ada di mana pun aku memandang," ujarnya. Ia menyadari hanya ada dua pilihan: mati atau bersih.
Keputusan Frankie untuk masuk rehabilitasi tidak hanya menyelamatkan nyawanya, tetapi juga memperbaiki hubungan yang sempat renggang dengan adiknya, Ariana Grande. "Sungguh tak tergambarkan betapa bersyukurnya aku memiliki [Ariana] dalam hidupku dan telah memperbaiki hubungan itu hingga kami sangat bahagia dan nyaman satu sama lain lagi," kata Frankie. Hubungan kakak-beradik itu kini menjadi salah satu pilar penting dalam proses pemulihannya.
Meski telah delapan tahun hidup bersih, Frankie mengakui bahwa perjuangan melawan adiksi adalah proses seumur hidup. Ia menolak anggapan bahwa pemulihan bisa terjadi secara instan. "Bukan sesuatu yang bisa kamu lakukan dengan jentikan jari dan tiba-tiba sadar," tegasnya. Ketakutan terbesarnya adalah jika suatu saat ia kambuh, ia yakin tidak akan mampu bertahan. "Aku benar-benar percaya jika aku kambuh, aku tidak akan kembali. Aku pikir aku akan mati," ungkapnya dengan jujur.
Kisah Frankie Grande menjadi pengingat bahwa adiksi adalah penyakit kronis yang membutuhkan dukungan berkelanjutan. Di Indonesia, isu kesehatan mental dan kecanduan masih kerap dianggap tabu, meskipun data menunjukkan peningkatan kasus. Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dr. Andri, Sp.KJ, kesadaran untuk mencari bantuan profesional masih rendah karena stigma sosial. "Banyak yang memilih diam dan berusaha sendiri, padahal rehabilitasi dan dukungan keluarga sangat menentukan keberhasilan pemulihan," ujarnya.
Frankie sendiri kini aktif berbagi pengalamannya untuk menginspirasi orang lain yang berjuang melawan adiksi. Ia berharap ceritanya bisa mendorong lebih banyak orang untuk berani meminta bantuan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah keterbukaan figur publik seperti Frankie mampu mengikis stigma dan mendorong lebih banyak orang Indonesia untuk mencari pertolongan?



