Barack Obama di Usia 60-an: Bugar Tapi Waspada Cedera, Yoga Jadi Target Berikutnya
Baca dalam 60 detik
- Mantan Presiden AS Barack Obama mengaku kondisi fisiknya prima meski memasuki usia 65 tahun, namun lebih berhati-hati saat berolahraga untuk menghindari cedera.
- Obama mengubah kebiasaan olahraganya dengan mengurangi aktivitas berintensitas tinggi seperti berlari di lapangan basket demi melindungi lutut dan Achilles.
- Michelle Obama, yang lebih disiplin dalam peregangan dan fleksibilitas, mendorong suaminya untuk mulai mencoba yoga sebagai bagian dari rutinitas kebugaran baru.

Barack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat yang akan genap berusia 65 tahun pada Agustus mendatang, memberikan kabar terbaru mengenai kondisi kesehatannya. Dalam sebuah wawancara bersama istrinya, Michelle Obama, ia mengaku masih dalam "bentuk yang baik" namun kini lebih waspada terhadap risiko cedera saat berolahraga.
Obama yang dikenal gemar berlari dan bermain basket, mengaku telah mengurangi intensitas aktivitas fisiknya. "Saya masih bisa mengajak orang bermain Horse (basket). Kami bisa mengadakan kontes tembakan. Tapi saya tidak lagi berlari naik-turun lapangan karena ingin melindungi lutut dan Achilles saya. Saya tidak ingin memakai boot," ujarnya dalam wawancara dengan People. Ia menambahkan bahwa dirinya dalam kondisi prima jika hanya berlari lurus, namun mulai khawatir jika harus bergerak menyamping.
Dalam kesempatan yang sama, Michelle Obama melontarkan candaan mengenai keputusan suaminya untuk tidak mengecat rambutnya yang mulai memutih. "Tentu saja kamu terlihat baik. Itu karena kamu tidak mengecat rambut. Kamu bisa memilih," katanya. Obama menjawab dengan santai, "Ya, itu terlalu merepotkan... tapi aku merasa hebat."
Menariknya, Obama mengakui bahwa Michelle jauh lebih maju dalam hal peregangan dan fleksibilitas. "Dia jelas terlihat spektakuler, tapi dia jauh di depanku dalam hal peregangan dan fleksibilitas. Dan itu adalah tahap berikutnya bagiku," ungkapnya. Obama pun mengaku sedang mempertimbangkan untuk mulai berlatih yoga.
Di sisi lain, Michelle Obama juga menyoroti pengalamannya selama menjadi Ibu Negara. Dalam podcast Call Her Daddy, ia mengkritik media yang lebih fokus pada penampilan fisiknya ketimbang pencapaian profesional. "Bagian atas artikel akan menulis tentang apa yang saya kenakan, bukan pendidikan saya, bukan karier profesional saya. Itu dimulai dengan penampilan," ujarnya. Michelle yang merupakan lulusan Princeton dan Harvard Law School, serta pernah bekerja sebagai pengacara dan asisten wali kota Chicago, menegaskan bahwa hal tersebut menunjukkan ketidakseimbangan dalam cara masyarakat memandang perempuan berkuasa.
Michelle juga menekankan pentingnya perempuan yang berada di posisi puncak untuk tidak sekadar menjadi versi feminin dari sistem yang rusak. "Apakah kamu membangun dunia yang kamu katakan kepada putri kecilmu itu ada?" tanyanya retoris. Namun, ia tetap pada pendiriannya bahwa Amerika Serikat belum siap memiliki presiden perempuan. "Ada pria di luar sana yang tidak akan memilih perempuan. Mari kita realistis dan membicarakannya. Jangan marah karena saya mengatakan itu," tegasnya.
Pernyataan Michelle ini kembali memicu diskusi tentang kesetaraan gender dalam politik, terutama menjelang pemilu AS mendatang. Pertanyaannya, akankah pandangan seperti ini berubah seiring dengan semakin banyaknya perempuan yang menempati posisi kepemimpinan? Ataukah stereotip lama masih akan terus menghantui?



