Lari Pagi di Mal Hokkaido: Olahraga Unik yang Menggoda Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 197 pelari mengikuti lari pagi di mal Wing Bay Otaru, Jepang, sebelum jam operasional.
- Acara ini merupakan pengembangan dari program jalan kaki indoor yang sudah berjalan lima tahun.
- Konsep serupa populer di Dubai, dan panitia berencana menggelar turnamen di masa depan.

Lari pagi biasanya identik dengan taman, jalur hijau, atau treadmill di pusat kebugaran. Namun, di Kota Otaru, Hokkaido, Jepang, sebanyak 197 pelari justru memilih berlari di dalam pusat perbelanjaan Wing Bay Otaru sebelum toko-toko buka. Acara bertajuk "Hokkaido Morning Mall Run" ini digelar pada 23 Mei dan 13 Juni lalu, menawarkan sensasi berlari di lorong mal yang sunyi dan sejuk.
Rute sepanjang 670 meter di dalam mal dibagi menjadi tiga kategori: pemula, menengah, dan mahir. Para peserta mengaku merasakan pengalaman yang tak biasa. "Seperti berlari di dunia lain," ujar Mirai Enami (34) dan Sayuri Honda (38), dua saudari yang ikut serta. "Sangat menyenangkan menikmati sesuatu yang di luar kebiasaan," tambah mereka.
Acara ini lahir dari inisiatif pengelola mal, Otaru Bay City Development Co., yang sejak lima tahun lalu bekerja sama dengan Saiseikai Otaru Hospital untuk menyediakan jalur jalan kaki indoor. Tujuannya, memanfaatkan panjang bangunan mal agar warga tetap sehat tanpa terganggu cuaca. Sistem poin untuk hadiah tiket bioskop dan imbalan lain pun diterapkan. "Hasil dari program jalan kaki ini mendorong kami menggelar acara lari," ujar perwakilan operator rumah sakit, Hokkaido Saiseikai.
Fenomena lari di mal sebenarnya bukan hal baru. Di Dubai, Uni Emirat Arab, ajang "Mallathon" telah populer sebagai cara berlari di dalam mal ber-AC untuk menghindari suhu ekstrem di luar. Konsep serupa kini mulai merambah Jepang, menawarkan alternatif olahraga yang aman dari panas, hujan, atau salju.
Bagi Indonesia, ide ini bisa menjadi inspirasi. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, mal sering kali menjadi tempat nongkrong dan berbelanja. Namun, potensi mal sebagai arena olahraga indoor masih jarang digarap. Dengan cuaca tropis yang kerap panas atau hujan, mal bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin berolahraga tanpa khawatir polusi atau cuaca buruk. Beberapa mal di Indonesia sebenarnya sudah memiliki area jogging track, seperti di Senayan City atau Pondok Indah Mall, tetapi belum ada acara lari massal yang terstruktur seperti di Hokkaido.
Panitia penyelenggara di Otaru berencana mengembangkan acara ini lebih lanjut. "Kami ingin memperluas pengalaman baru ini dengan mengadakan semacam turnamen," kata Yoshinobu Tasaka (51), anggota komite penyelenggara. Jika berhasil, bukan tidak mungkin tren lari di mal akan menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Pertanyaannya, apakah pengelola mal di Tanah Air siap membuka pintu lebih awal untuk para pelari?



