Diet Keto Bukan Sekadar Penurun Berat Badan: Bukti Baru untuk Depresi dan Diabetes
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis pada 88 pasien depresi resisten menunjukkan diet keto menurunkan skor PHQ-9 hingga 10 poin, sedikit lebih baik dibanding diet kontrol.
- Penelitian pada mencit mengindikasikan diet tinggi lemak rendah karbohidrat mampu mengembalikan gula darah normal dan meningkatkan respons terhadap latihan fisik.
- Studi pada 51 pasien diabetes tipe 2 menemukan diet keto memperbaiki fungsi sel beta pankreas, berpotensi menginduksi remisi lebih efektif daripada diet rendah lemak.

Diet ketogenik, yang selama ini identik dengan program penurunan berat badan, mulai menunjukkan potensi terapeutik yang lebih luas. Tiga studi terbaru yang dipublikasikan sepanjang 2026 mengaitkan pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak ini dengan perbaikan gejala depresi resisten serta kontrol gula darah pada diabetes tipe 2. Temuan ini membuka diskusi baru tentang peran intervensi diet dalam tata laksana gangguan metabolik dan kejiwaan.
Dalam uji klinis yang dimuat di JAMA Psychiatry, peneliti dari Universitas Oxford melibatkan 88 partisipan berusia 18–65 tahun dengan depresi berat yang tidak merespons pengobatan konvensional. Selama enam pekan, sebagian dari mereka menjalani diet keto dengan asupan karbohidrat maksimal 30 gram per hari, sementara sisanya mengikuti diet kaya fitokimia sebagai kontrol. Setelah 12 pekan masa observasi, kelompok keto mencatat penurunan skor PHQ-9 rata-rata 10 poin, dibandingkan 8 poin pada kelompok kontrol. Meski perbedaan ini tergolong kecil, peneliti menilai efek tersebut cukup bermakna secara klinis untuk pasien yang selama ini sulit membaik.
Min Gao, PhD, epidemiolog sekaligus penulis utama studi, menekankan bahwa diet keto bukanlah solusi ajaib. “Manfaat yang diamati bersifat jangka pendek dan terbatas pada sebagian pasien. Diet ini sulit dijalani dalam jangka panjang dan tidak mengubah rekomendasi terapi yang ada,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya tidak menafsirkan hasil studi secara berlebihan.
Pada ranah metabolik, penelitian di Nature Communications menunjukkan bahwa mencit dengan hiperglikemia yang diberi diet keto mengalami normalisasi kadar gula darah. Menariknya, kombinasi diet keto dengan latihan fisik meningkatkan kapasitas aerobik secara lebih signifikan dibandingkan mencit yang mengonsumsi diet tinggi karbohidrat. Sarah Lessard, PhD, asisten profesor di Virginia Tech, menjelaskan bahwa temuan ini mengindikasikan adanya sinergi antara restriksi karbohidrat dan olahraga dalam memperbaiki metabolisme energi.
Studi ketiga yang terbit di Journal of the Endocrine Society menguji efek diet keto pada 51 pasien diabetes tipe 2 berusia 35–65 tahun. Setelah 12 pekan, seluruh partisipan mengalami penurunan berat badan, namun hanya kelompok keto yang menunjukkan penurunan rasio proinsulin terhadap C-peptide—penanda bahwa sel beta pankreas tidak lagi bekerja terlalu keras. Marian Yurchishin, MS, peneliti dari University of Alabama at Birmingham, mengatakan bahwa penurunan proinsulin mencerminkan berkurangnya stres pada sel beta. “Dengan membatasi karbohidrat, sel beta mendapat kesempatan untuk memperbaiki mekanisme sekresinya, sehingga produksi insulin menjadi lebih efisien,” jelasnya.
Kendati menjanjikan, para ahli mengingatkan soal kepatuhan jangka panjang. Kristin Kirkpatrick, MS, RDN, ahli gizi yang tidak terlibat dalam studi, menekankan bahwa keberhasilan diet apa pun bergantung pada kemampuan seseorang untuk menjalaninya secara konsisten. “Pertanyaan terbesarnya adalah: apakah diet keto bisa dipertahankan dalam keseharian?” ujarnya. Hal ini menjadi relevan di Indonesia, di mana pola makan tinggi karbohidrat seperti nasi masih menjadi sumber energi utama. Adaptasi diet keto di tengah budaya pangan lokal membutuhkan penyesuaian yang tidak mudah.
Ke depan, riset dengan durasi lebih panjang dan partisipan lebih besar diperlukan untuk memastikan efektivitas serta keamanan diet keto dalam jangka waktu bertahun-tahun. Apakah manfaat yang terlihat pada studi awal ini dapat bertahan tanpa efek samping metabolik? Jawabannya akan menentukan apakah diet keto layak dijadikan terapi adjuvan untuk depresi dan diabetes, atau hanya sekadar tren sesaat.



