Wabah Flu Burung Meluas di Kathmandu, Kebun Binatang Tutup
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 50 titik wabah flu burung H5N1 dilaporkan di Lembah Kathmandu, memaksa pemerintah Nepal mengerahkan tim respons cepat.
- Virus telah menginfeksi satwa di Kebun Binatang Pusat, termasuk burung langka dan musang, sehingga kebun binatang ditutup tanpa batas waktu.
- Peternak unggas skala kecil paling terdampak, sementara pemerintah belum memberikan kompensasi, meningkatkan risiko penjualan unggas sakit ke pasar.

Pemerintah Nepal melalui Departemen Peternakan pada Senin (22/6) mengerahkan empat tim respons cepat untuk memusnahkan ayam dan bebek di peternakan yang terinfeksi virus flu burung A(H5N1), menyusul merebaknya wabah di tiga distrik Lembah Kathmandu—Kathmandu, Bhaktapur, dan Lalitpur. Lebih dari 50 titik wabah telah dilaporkan, dan otoritas setempat mengakui penyebaran saat ini berada pada puncaknya.
“Penyebaran sedang mencapai puncak di Lembah Kathmandu, kami sibuk dengan langkah-langkah pengendalian,” ujar Dr. Mukul Upadhyaya, pejabat senior veteriner yang juga menjadi focal point program pengendalian flu burung. Wabah yang bermula dari Nepal timur pada Maret lalu kini telah menjangkau ibu kota, mengancam ribuan peternak kecil yang menggantungkan hidup pada unggas.
Yang memprihatinkan, virus telah mencapai Kebun Binatang Pusat Kathmandu dan menewaskan puluhan burung, termasuk burung nasar, burung hantu, angsa, dan bangau. Pejabat kebun binatang mengonfirmasi virus juga terdeteksi pada beberapa hewan, seperti musang. Ini adalah pertama kalinya A(H5N1) menyebar di antara satwa di kebun binatang tersebut, sehingga sejak Jumat lalu tempat itu ditutup untuk umum.
“Kami belum bisa memastikan kapan kebun binatang akan dibuka kembali,” kata Ganesh Koirala, juru bicara Kebun Binatang Pusat. Pihaknya menduga burung gagak dan burung liar lainnya menjadi pembawa virus ke dalam area kebun binatang. Namun, Departemen Peternakan menyalahkan kelalaian dalam penerapan protokol biosekuriti di kebun binatang yang memelihara satwa langka dan terancam punah itu. Mereka bahkan menuding pengelola kebun binatang berusaha menyembunyikan insiden hingga kematian burung dalam jumlah besar tidak bisa ditutupi lagi.
Pemerintah Nepal biasanya memusnahkan seluruh unggas, produk unggas, dan pakan dari peternakan yang terinfeksi, menutup lokasi, serta membatasi pergerakan selama 42 hari. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah wabah terjadi pada unggas peliharaan di rumah tangga dengan jumlah sedikit. “Tidak mungkin membatasi pergerakan masyarakat di area padat penduduk, sehingga pengendalian menjadi lebih sulit,” kata Upadhyay. Otoritas akan memutuskan apakah akan mengizinkan pemeliharaan unggas skala rumah tangga di kawasan padat setelah wabah terkendali.
Sejak wabah flu burung pertama kali tercatat di Nepal pada Januari 2009, hampir setiap tahun negara itu mengalami kejadian serupa. Ratusan ribu unggas dan produknya dimusnahkan, namun hingga kini pemerintah belum memberikan kompensasi kepada peternak yang terdampak. Banyak peternak meninggalkan usaha peternakan karena kerugian yang terus menumpuk. Para ahli memperingatkan risiko unggas terinfeksi masuk ke pasar karena peternak nekat menjual ternaknya untuk menekan kerugian.
Bagi Indonesia, wabah flu burung di Nepal menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap lalu lintas unggas dan penerapan biosekuriti di kebun binatang serta peternakan skala kecil. Meskipun Indonesia telah lama bergulat dengan flu burung, kasus di Nepal menunjukkan bahwa virus terus berevolusi dan mampu menginfeksi satwa liar yang dilindungi. Pertanyaan yang mengemuka: apakah sistem surveilans dan kompensasi di Indonesia sudah cukup kuat untuk mencegah peternak menjual unggas sakit ke pasar saat wabah melanda?



