Madonna: Instagram Membuat Depresi, Waktu Terlalu Berharga untuk Sekadar Scroll
Baca dalam 60 detik
- Madonna mengaku Instagram bersifat 'menghancurkan jiwa' dan memicu depresi jika digunakan lebih dari sepuluh menit.
- Pelantun 'Hung Up' itu lebih memilih menulis tangan di jurnal daripada mengetik, karena dianggap lebih memiliki jiwa.
- Pernyataan Madonna menyoroti dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental, relevan dengan tren digital di Indonesia.

Madonna, ikon pop berusia 67 tahun, kembali menyuarakan kritik tajam terhadap media sosial. Dalam wawancara terbaru dengan Interview Magazine, ia menyebut Instagram sebagai aktivitas yang 'sangat mengganggu' dan 'menghancurkan jiwa' (soul-destroying). Lebih dari itu, penyanyi dengan lebih dari 20 juta pengikut ini mengaku bahwa menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit di aplikasi berbagi foto tersebut membuatnya merasa tertekan.
Madonna, yang tumbuh tanpa televisi dan baru bergabung dengan Instagram pada 2018, mengaku memiliki disiplin tinggi dalam menggunakan media sosial. "Jika saya membuka Instagram lebih dari sepuluh menit, saya merasa depresi, dan saya tidak ingin berada di sana," ujarnya. Ia mempertanyakan mengapa dirinya memberikan kekuasaan pada entitas tak berwujud ini atas jiwa, otak, dan pandangannya terhadap dunia. "Waktu itu berharga, dan itu adalah sesuatu yang saya ketahui sepanjang hidup saya," tegasnya.
Fenomena doomscrolling—kebiasaan terus-menerus menggulir konten negatif—juga disinggung Madonna. Ia mengaku kadang terjebak tanpa sadar, lalu bertanya pada diri sendiri, "Apa yang saya lakukan? Saya punya 5.000 hal yang harus dilakukan. Matikan ponsel." Baginya, media sosial adalah gangguan yang tidak perlu, dan ia lebih memilih mengisi hari dengan aktivitas produktif seperti menulis daftar dan menempelkan catatan tempel di mana-mana.
Di tengah gempuran digital, Madonna justru merayakan kebiasaan analog. Ia mengaku menulis lirik dengan tangan di atas kertas, membuat coretan, kesalahan, dan menulis ulang. "Saya menghargai halaman-halaman itu. Itu adalah artefak. Hubungan pikiran-tangan adalah bagian dari jiwa Anda dengan cara yang tidak pernah bisa dicapai oleh teks," jelasnya. Bagi Madonna, mengetik tidak memiliki jiwa.
Pernyataan Madonna ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana pengguna media sosial mencapai 191 juta pada awal 2024. Riset menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan berkorelasi dengan peningkatan kecemasan dan depresi, terutama di kalangan remaja. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratih Ibrahim, menilai bahwa kesadaran akan dampak negatif media sosial seperti yang diungkapkan Madonna penting untuk ditiru. "Banyak orang Indonesia yang terjebak dalam siklus doomscrolling tanpa sadar. Membatasi waktu layar dan kembali ke aktivitas fisik seperti menulis tangan bisa menjadi terapi," ujarnya.
Madonna menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan media sosial mengendalikan hidupnya. "Mengapa saya memberikan kekuasaan pada entitas tak berwujud ini atas jiwa saya?" tanyanya retoris. Pertanyaan ini menjadi pengingat bagi generasi digital: apakah kita yang mengendalikan teknologi, atau justru sebaliknya?



