Filipina Puncaki Tingkat Stres Kerja di Asia Tenggara, Indonesia Paling Rendah
Baca dalam 60 detik
- Setengah dari pekerja Filipina melaporkan stres harian pada 2025, tertinggi di Asia Tenggara dan dua kali lipat rata-rata regional.
- Indonesia mencatat tingkat stres kerja terendah di kawasan (14%), sementara Vietnam dan Thailand berhasil menekan angka stres secara signifikan.
- Tingginya keterlibatan kerja di Filipina tidak otomatis mengurangi stres, mengindikasikan tekanan struktural yang perlu diatasi.

Laporan Gallup State of the Global Workplace 2026 mengungkapkan bahwa separuh pekerja Filipina mengalami stres hampir sepanjang hari pada 2025, menjadikan negeri itu sebagai negara dengan tingkat stres kerja tertinggi di Asia Tenggara. Angka ini kontras dengan tren penurunan stres di sebagian besar negara tetangga, termasuk Indonesia yang mencatat persentase terendah di kawasan.
Menurut analis data dari University of the Philippines Diliman, Dr. Rogelio Alicor Panao, proporsi pekerja Filipina yang melaporkan stres harian mencapai 50 persen — dua kali lipat rata-rata regional sebesar 25 persen dan di atas rata-rata global 40 persen. Angka ini juga meningkat dari 45 persen pada 2022. Sementara itu, Vietnam berhasil menurunkan angka stres dari 35 persen (2021) menjadi 13 persen (2025), dan Thailand dari 41 persen menjadi 25 persen. Malaysia, Laos, dan Indonesia melaporkan tingkat stres antara 14 hingga 26 persen, semuanya di bawah rata-rata regional.
Panao menyebut Filipina sebagai “outlier yang jelas” karena pola stres di negara itu bergerak berlawanan arah dengan kawasan. Ia menambahkan bahwa keterlibatan kerja (employee engagement) yang tinggi — 39 persen, salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara — tidak serta merta melindungi pekerja dari stres. “Engagement tidak selalu menjadi tameng; dalam beberapa konteks, ia bisa hidup berdampingan dengan tekanan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Fenomena ini menjadi perhatian karena berbarengan dengan temuan lain yang menunjukkan kepuasan kerja relatif tinggi. Survei Workplace Happiness Index 2025 oleh Jobstreet menempatkan Filipina di peringkat kedua Asia-Pasifik dalam kebahagiaan kerja (77 persen pekerja mengaku bahagia). Namun, survei yang sama mengungkap bahwa hanya 41 persen pekerja Filipina merasa mampu mengendalikan stres, 38 persen mengalami kelelahan ekstrem, dan 55 persen sering berpikir untuk berganti karier. Artinya, kebahagiaan kerja tidak otomatis menghilangkan tekanan psikologis.
Bagi Indonesia, data ini memberikan gambaran yang relatif positif namun tetap perlu diwaspadai. Dengan tingkat stres kerja hanya 14 persen — terendah di Asia Tenggara — Indonesia menunjukkan lingkungan kerja yang lebih kondusif dibanding Filipina atau Singapura (43%). Meski demikian, faktor seperti beban kerja, batas pekerjaan-rumah yang kabur, dan tantangan teknologi tetap menjadi risiko, sebagaimana ditemukan dalam studi pada pegawai negeri Filipina. Peneliti dari UP Open University menekankan bahwa kondisi kerja lebih berpengaruh terhadap kesejahteraan mental dibanding karakteristik personal seperti usia atau pendapatan.
Psikolog klinis Dr. Carolina Uno-Rayco mengingatkan bahwa stres kerja kronis yang tidak dikelola dapat memicu sindrom burnout. Sementara itu, Dr. Mary May Fernando mendorong perusahaan untuk mengidentifikasi bahaya psikososial di tempat kerja dan mengutamakan perbaikan sistem kerja, bukan sekadar menasihati individu. “Tujuannya adalah memperbaiki pekerjaan, bukan hanya memperbaiki orangnya,” tegasnya.
Ke depan, negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu terus memantau dinamika stres kerja seiring perubahan pola kerja pascapandemi. Pertanyaan yang mengemuka: apakah Indonesia mampu mempertahankan tingkat stres rendah sambil meningkatkan produktivitas, atau justru akan mengikuti jejak Filipina ketika tekanan ekonomi dan tuntutan kerja meningkat?



