Kota Kecil di Kansas Jadi Rumah Kedua Timnas Aljazair di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Kota Lawrence, Kansas, menjadi basis timnas Aljazair selama Piala Dunia dan mendapat sambutan luar biasa dari warga setempat.
- Kemenangan Aljazair atas Yordania disambut euforia di Lawrence, mengubah kota itu menjadi lautan warna bendera Aljazair.
- Dukungan warga Lawrence tidak hanya emosional, tetapi juga berdampak ekonomi nyata dengan lonjakan penjualan merchandise dan perluasan menu halal.

Kemenangan tipis Aljazair atas Yordania di Piala Dunia bukan hanya membawa tiga poin berharga bagi tim Afrika Utara itu, tetapi juga menjadi kemenangan bersama bagi sebuah kota kecil di Amerika Serikat yang mengadopsi mereka sebagai tim sendiri. Lawrence, Kansas, kota berpenduduk sekitar 96.000 jiwa yang menjadi markas Universitas Kansas, berubah menjadi lautan bendera hijau, putih, dan merah saat gol-gol kemenangan tercipta di babak kedua.
Sejak awal turnamen, Lawrence ditunjuk sebagai kamp pelatihan Aljazair, sebuah kehormatan yang jarang diberikan kepada kota sekecil itu. Padahal, tim-tim raksasa seperti Argentina, Inggris, dan Belanda memilih markas di Kansas City yang hanya berjarak sekitar 64 kilometer. Namun, sambutan hangat warga Lawrence justru membuat Aljazair merasa seperti bermain di kandang sendiri. Pelatih Vladimir Petkovic secara terbuka mengakui bahwa dukungan tersebut memberikan suntikan moral bagi para pemainnya.
Euforia tidak surut meski Aljazair sempat kalah telak 0-3 dari Argentina di laga pembuka. Warga Lawrence justru semakin bergerak, menghias jalan-jalan dan etalase toko dengan atribut Aljazair, bahkan menerangi pepohonan dengan warna bendera negara tersebut. Semangat ini mencapai puncaknya saat Aljazair membalikkan keadaan melawan Yordania, setelah sempat tertinggal lebih dulu melalui gol Nizar Al-Rashdan. Dua gol balasan dari Nadhir Benbouali dan Amine Gouiri memicu ledakan kegembiraan di pusat kota.
Dampak ekonomi dari sambutan ini juga terasa. Morgan Fellers, seorang pengusaha lokal yang menjual kaos Aljazair, mengaku kewalahan memenuhi permintaan. "Saya harus mencetak ulang berkali-kali. Total mungkin sudah 400-450 kaos terjual. Percetakan saya sampai panik setiap kali saya mengirim pesan," ujarnya. Selain itu, restoran-restoran di Lawrence mulai menyajikan lebih banyak pilihan halal, menyesuaikan dengan kebutuhan tim dan para penggemar yang datang.
Bagi komunitas Aljazair di Amerika Serikat, momen ini terasa sangat personal. Djamila Iadadeni, warga Aljazair yang telah 18 tahun tinggal di AS, mengaku tak sabar menyaksikan timnya bertanding melawan Austria. "Biasanya kami harus pulang ke Aljazair setiap dua atau tiga tahun untuk bertemu keluarga. Sekarang mereka yang datang kepada kami, di Kansas," katanya haru. Seniman lokal Stan Herd bahkan membuat instalasi bendera Aljazair raksasa di dekat Lied Center sebagai simbol persahabatan antarbudaya.
Bagi Indonesia, kisah Lawrence dan Aljazair ini bisa menjadi inspirasi tentang bagaimana sepak bola mampu menjembatani perbedaan budaya dan memberikan dampak ekonomi positif bagi komunitas lokal. Di tengah euforia Piala Dunia, momen seperti ini mengingatkan bahwa turnamen ini bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga panggung diplomasi dan persatuan. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Aljazair memanfaatkan dukungan ini untuk melangkah lebih jauh, atau akankah Lawrence hanya menjadi kenangan indah yang berlalu begitu saja?



