SkyJo, Imposter, dan Wolf: Trik Rahasia Timnas Inggris Jaga Kekompakan di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Jude Bellingham memperkenalkan permainan kartu SkyJo di kamp latihan Inggris, yang langsung menjadi favorit para pemain untuk mengisi waktu luang.
- Selain SkyJo, skuad The Three Lions juga memainkan Wolf dan Imposter sebagai bagian dari strategi membangun iktim tim di tengah jadwal padat turnamen.
- Pelatih Thomas Tuchel sengaja menciptakan atmosfer klub, termasuk mengajak pemain menonton baseball dan konser, demi menjaga mental juara selama Piala Dunia.

Di tengah hiruk-pikuk persaingan Grup B Piala Dunia 2026, Timnas Inggris ternyata memiliki senjata rahasia yang tidak terlihat di lapangan: permainan kartu SkyJo. Gagasan membawa permainan ini datang dari gelandang Real Madrid, Jude Bellingham, yang sukses membuat rekan-rekannya ketagihan. Bagi skuad yang telah menetap di Kansas City sejak awal Juni, aktivitas di luar sesi latihan menjadi krusial untuk menjaga kebugaran mental dan kekompakan tim.
Morgan Rogers, penyerang Aston Villa yang menjadi bagian dari kelompok pemain muda, mengungkapkan bahwa SkyJo telah menjadi rutinitas baru. "Kemarin kami bersepeda ke kedai kopi dan bermain kartu. Jude yang membelikan, ini permainan yang berbeda. Saya belum pernah melihatnya sebelumnya, tapi sekarang kami kecanduan," ujarnya kepada BBC Sport. Dalam permainan tersebut, setiap pemain mengumpulkan dan menukar kartu hingga total poin melebihi 100; pemain dengan skor terendah keluar sebagai pemenang.
Selain SkyJo, dua permainan lainโWolf dan Imposterโjuga menjadi andalan. Wolf, yang mirip dengan acara BBC The Traitors, sudah dimainkan sejak turnamen sebelumnya, termasuk saat persiapan final Euro 2024 melawan Spanyol. Sementara Imposter, sebuah permainan berbasis aplikasi, menantang pemain untuk mengidentifikasi satu orang yang tidak mengetahui kata rahasia. Jordan Henderson, yang kini membela Brentford, menambahkan bahwa permainan-permainan ini dimainkan bahkan di perjalanan menuju tempat latihan.
Manajer Thomas Tuchel sengaja menciptakan suasana seperti di klub untuk menjaga semangat tim. Ia bersama kapten Harry Kane, Djed Spence, dan Dan Burn menyempatkan diri menonton pertandingan baseball Sporting KC yang stadionnya dekat dengan markas latihan. Burn dan Kane juga menghadiri konser penyanyi country Ella Langley. Langkah-langkah ini, menurut Tuchel, penting untuk memastikan para pemain tetap rileks dan fokus menghadapi tekanan turnamen.
Di sisi lain, persaingan sehat antara Rogers dan Bellingham untuk posisi gelandang serang nomor 10 justru mempererat hubungan mereka. "Saya berharap ini bukan rivalitas. Kami sangat dekat, menghabiskan hampir seluruh waktu luang bersama. Saya pikir kami bisa bermain bersama, bukan saling menggantikan," kata Rogers. Keduanya tumbuh besar di West Midlands dan sudah saling kenal sejak kecil. Rogers mengakui bahwa Henderson berperan sebagai "paman" yang menengahi saat ia dan Bellingham berselisih kecil.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa kesuksesan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh taktik di lapangan, tetapi juga oleh keharmonisan di luar lapangan. Timnas Inggris menunjukkan bahwa aktivitas ringan seperti bermain kartu atau menonton konser bisa menjadi investasi penting untuk membangun mental juara. Pertanyaannya, akankah strategi ini cukup membawa The Three Lions melangkah jauh di Piala Dunia 2026?



