Pochettino Sulap Timnas AS Jadi Penantang Serius di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Mauricio Pochettino berhasil membawa Timnas AS lolos ke fase gugur Piala Dunia setelah dua kemenangan beruntun, mengubah skeptisisme menjadi kepercayaan diri.
- Pelatih asal Argentina itu menanamkan mentalitas agresif dan keyakinan 'why not us?' yang menyatukan pemain dan suporter, menciptakan atmosfer kemenangan.
- Kontrak Pochettino yang hanya sampai akhir turnamen memicu spekulasi masa depannya, namun performa impresif dan dukungan publik bisa mengubah rencana kepulangannya.

Mauricio Pochettino berhasil membalikkan ekspektasi publik terhadap Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia tahun ini. Dari tim yang dianggap hanya pelengkap, kini skuad asuhannya tampil sebagai ancaman nyata setelah memastikan tempat di babak 16 besar dengan dua kemenangan meyakinkan.
Ketika Pochettino pertama kali menyatakan ambisi negaranya menjadi juara dunia pada Maret lalu, banyak yang meragukan. Rekam jejak AS di turnamen terbesar sepak bola memang tidak mentereng: hanya sekali melewati babak 16 besar dalam sembilan partisipasi terakhir, yakni perempat final 2002. Capaian terbaik mereka adalah semifinal di edisi perdana 1930. Namun, kemenangan 4-1 atas Paraguay dan 2-0 atas Australia di Grup D menunjukkan perubahan fundamental.
Pochettino, yang meneken kontrak dua tahun pada 2024, berhasil membangun tim yang memadukan talenta muda menjanjikan dengan pemain berpengalaman dari liga-liga top Eropa. Gaya bermain menyerang yang atraktif menjadi ciri khas baru. Lebih dari itu, ia menanamkan mentalitas agresif yang sebelumnya absen. Di dinding kantor daruratnya di hotel tim terpampang kalimat 'why not us?', 'believe, work, compete', dan 'now is our time!' โ mantra yang kini dihayati para pemain.
Koneksi antara tim dan suporter menjadi faktor pembeda. Usai laga melawan Australia di Seattle, ribuan pendukung membanjiri jalan-jalan pusat kota sambil meneriakkan nama Pochettino. Lagu 'Take Me Home, Country Roads' milik John Denver pun menjelma menjadi himne kemenangan tidak resmi. Seorang suporter menyebut Pochettino sebagai 'Braveheart' โ pemimpin yang rela berjuang hingga titik darah penghabisan. Bahkan penggemar Arsenal yang notabene rival Tottenham, tempat Pochettino pernah melatih, mengakui dampak positifnya.
Penyerang Timnas AS, Tim Weah, menilai kehadiran Pochettino membawa 'semangat Amerika Selatan' yang selama ini hilang. "Kami dulu selalu menjadi pihak yang baik-baik saja, sekarang kami menjadi agresor. Ini menyenangkan," ujarnya. Filosofi sederhana namun lugas Pochettino โ tanpa politisasi khas sepak bola Amerika โ disambut hangat. "Dia datang dan hanya ingin menang. Kenapa tidak kami?" kata seorang suporter lain.
Kontrak Pochettino yang hanya sampai akhir Piala Dunia memunculkan spekulasi kepulangannya ke klub Eropa. Namun, start gemilang dan dukungan publik bisa mengubah segalanya. Dalam wawancara dengan wartawan, ia menyatakan fokus saat ini adalah turnamen, namun membuka kemungkinan perpanjangan. "Jika kami ingin bertahan, kami punya waktu berbulan-bulan, berhari-hari, atau berminggu-minggu untuk berbicara. Karena empat tahun lagi menuju Piala Dunia berikutnya," katanya.
Bagi Indonesia, kisah Pochettino menjadi contoh bagaimana pelatih asing bisa mengubah mentalitas tim secara drastis dalam waktu singkat. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara, performa AS ini juga menjadi tolok ukur bagi tim-tim Asia yang ingin bersaing di panggung global. Pertanyaan besarnya: mampukah Pochettino mempertahankan momentum hingga akhir, atau justru meninggalkan warisan yang lebih besar dari sekadar hasil di lapangan?



