Adegan Tampar di Lokasi Syuting Berujung ke Rumah Sakit: Ketakutan Aktris Hong Kong Samantha Ko
Baca dalam 60 detik
- Aktris Hong Kong Samantha Ko mengaku trauma setelah adegan tampar di lokasi syuting menyebabkan rahangnya bergeser hingga harus dirawat di rumah sakit.
- Kejadian itu mengubah pandangannya tentang adegan kekerasan fisik di industri hiburan, meski ia enggan mengungkap identitas lawan main yang melakukannya.
- Kasus ini menyoroti risiko keselamatan aktor di balik layar, yang relevan dengan industri perfilman Indonesia yang juga kerap menggunakan adegan serupa.

Aktris Hong Kong, Samantha Ko, mengungkapkan trauma mendalam setelah mengalami cedera serius akibat adegan tampar di lokasi syuting. Insiden yang terjadi beberapa waktu lalu itu memaksanya menjalani perawatan di rumah sakit karena rahangnya bergeser dan tidak bisa membuka mulut dengan normal.
Ko, yang kini berusia 39 tahun, menceritakan pengalaman pahitnya saat menjadi bintang tamu di sebuah program TVB bersama rekan-rekannya, Kenneth Ma, Kalok Chow, dan Joey Thye. Mereka hadir untuk mempromosikan drama terbaru, The Airport Diary 2. Dalam perbincangan tersebut, para aktor berbagi pengalaman paling berkesan selama berkarier, termasuk soal adegan tampar yang kerap menimbulkan dilema.
Menurut Ma, Chow, dan Thye, mereka lebih memilih menjadi pihak yang ditampar karena aktor yang memberi tamparan justru menghadapi tekanan lebih besarโrisiko melukai lawan main secara tidak sengaja. Namun, Ko memiliki pandangan berbeda. Ia mengaku dulu setuju dengan pendapat itu, tetapi sikapnya berubah total setelah insiden yang dialaminya.
โSetelah ditampar, satu sisi wajah saya terasa sakit, dan kemudian saya sadar tidak bisa membuka mulut. Rahang saya bergeser,โ kenang Ko dalam wawancara tersebut. Ia langsung mencari pertolongan medis dan dirawat di rumah sakit. Peristiwa itu membuatnya enggan menerima peran yang mengharuskan ia dipukul atau ditampar.
Meski didesak oleh pembawa acara untuk menyebut nama aktor yang terlibat, Ko memilih bungkam. Ia tidak ingin memperkeruh suasana atau menyalahkan rekan kerjanya. Sikap profesional ini menuai simpati dari penggemar dan rekan sesama artis, namun juga memicu diskusi tentang keselamatan di lokasi syuting.
Kasus ini mengingatkan pada sejumlah insiden serupa di industri hiburan global. Di Indonesia, adegan tampar atau pukulan juga kerap digunakan dalam sinetron dan film, terutama genre drama atau laga. Namun, standar keselamatan aktor sering kali kurang diperhatikan. Beberapa aktor Tanah Air pernah mengeluhkan cedera akibat adegan fisik yang tidak dipersiapkan dengan matang, mulai dari memar ringan hingga cedera serius.
Pakar keselamatan kerja di industri kreatif menilai bahwa adegan kekerasan fisik seharusnya dikoreografikan dengan hati-hati dan melibatkan pelatih profesional. โTanpa koordinasi yang baik, risiko cedera sangat tinggi. Aktor yang memberi tamparan harus bisa mengontrol kekuatan, sementara aktor yang menerima harus tahu cara meredam dampaknya,โ ujar seorang koreografer laga yang enggan disebut namanya.
Ke depan, insiden seperti yang dialami Ko diharapkan menjadi pelajaran bagi rumah produksi untuk lebih memperhatikan protokol keselamatan. Apakah industri hiburan Asia, termasuk Indonesia, akan mulai menerapkan standar yang lebih ketat untuk melindungi para aktor dari cedera yang sebenarnya bisa dicegah?



