Wegovy dan Zepbound Jadi Pilihan Utama Obat Obesitas, Panduan Baru ACP Terbit
Baca dalam 60 detik
- American College of Physicians (ACP) menetapkan semaglutide (Wegovy/Ozempic) dan tirzepatide (Zepbound/Mounjaro) sebagai lini pertama farmakoterapi obesitas pada dewasa dengan BMI ≥30 atau ≥27 dengan komorbid.
- Panduan ini bersifat 'living guideline' yang akan diperbarui seiring munculnya bukti baru, menandai pergeseran dari rekomendasi statis ke pendekatan adaptif dalam tata laksana obesitas.
- Keputusan terapi harus individual, mempertimbangkan efek samping, biaya, akses, dan preferensi pasien, serta tetap mengutamakan modifikasi gaya hidup.

American College of Physicians (ACP) resmi merekomendasikan obat berbasis semaglutide dan tirzepatide sebagai pilihan pertama dalam penanganan obesitas pada orang dewasa, menandai perubahan signifikan dalam panduan klinis yang selama ini belum secara eksplisit menempatkan obat tertentu di posisi terdepan. Keputusan ini diumumkan dalam Annals of Internal Medicine dan disertai ringkasan untuk pasien, dengan status dokumen sebagai 'living guideline' yang akan diperbarui secara berkala.
Panduan tersebut menyasar dua kelompok utama: dewasa dengan indeks massa tubuh (BMI) 30 kg/m² atau lebih (obesitas), dan mereka yang memiliki BMI 27–30 (kelebihan berat badan) disertai setidaknya satu kondisi terkait obesitas seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dislipidemia, sleep apnea, atau penyakit kardiovaskular. Untuk kedua kelompok, semaglutide (dipasarkan sebagai Ozempic dan Wegovy) serta tirzepatide (Mounjaro dan Zepbound) menjadi andalan farmakologis, namun harus dikombinasikan dengan perubahan pola makan dan aktivitas fisik.
Menurut Mir Ali, MD, spesialis bedah bariatrik dari MemorialCare Surgical Weight Loss Center di California, obat-obatan ini saat ini merupakan opsi farmakologis paling efektif untuk pengelolaan obesitas. Namun, ia mengingatkan bahwa prosedur bedah masih menawarkan tingkat keberhasilan jangka panjang yang lebih tinggi bagi pasien yang memenuhi syarat. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meskipun obat baru menjanjikan, pendekatan invasif tetap relevan untuk kasus tertentu.
Panduan ini juga menekankan bahwa pemilihan obat tidak boleh semata-mata berdasarkan besarnya penurunan berat badan yang diharapkan. Dokter dan pasien didorong mendiskusikan faktor seperti potensi manfaat dan risiko, biaya, ketersediaan obat, kondisi kesehatan yang sudah ada, tujuan pribadi, harapan hidup, serta preferensi pasien. Ali menambahkan, pasien perlu memahami mekanisme kerja, efek samping, dan kemungkinan perlunya terapi jangka panjang. "Obat-obatan ini harus dipandang sebagai alat untuk membantu pasien beradaptasi dengan pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat," ujarnya.
ACP juga menyoroti pentingnya memantau efek samping yang tidak diinginkan, seperti defisiensi nutrisi, penurunan massa otot, dan kepadatan tulang—kekhawatiran yang relevan terutama bagi lansia. Dalam konteks Indonesia, di mana prevalensi obesitas pada dewasa mencapai 21,8% (Riskesdas 2018) dan terus meningkat, panduan ini dapat menjadi acuan bagi dokter dalam memilih terapi yang tepat, meskipun akses dan biaya obat-obatan tersebut masih menjadi tantangan. Belum semua obat ini tercakup dalam jaminan kesehatan nasional, sehingga kesenjangan akses perlu menjadi perhatian.
Keunikan panduan ACP adalah statusnya sebagai living guideline, yang memungkinkan rekomendasi diperbarui segera setelah bukti baru tersedia. Ini merupakan langkah maju dari pedoman statis yang biasanya tidak berubah selama bertahun-tahun. "Manfaat utamanya adalah rekomendasi dapat diperbarui seiring data baru," kata Ali. Dengan riset obesitas yang bergerak cepat dan munculnya obat-obatan baru, pendekatan adaptif ini diharapkan dapat menjaga relevansi panduan klinis. Pertanyaan yang tersisa: akankah sistem kesehatan Indonesia mampu mengadopsi fleksibilitas serupa dalam pedoman nasionalnya?



