Air Mineral Alkali Bisa Gagalkan Kerja Obat, Studi Sarankan Gunakan Air Keran
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengungkap bahwa air mineral alkali dapat merusak lapisan enterik pada obat, menyebabkan pelepasan dini bahan aktif dan mengurangi efektivitas terapi.
- Dari 103 obat berlapis enterik yang diteliti, hanya 8,7% yang menyertakan petunjuk jelas tentang jenis cairan yang aman digunakan saat konsumsi.
- Para peneliti menekankan risiko tinggi pada lansia dan penderita disfagia, yang kerap mengonsumsi air alkali dan memodifikasi cara minum obat tanpa panduan memadai.

Mengonsumsi obat oral dengan air mineral alkali, yang selama ini dianggap lebih sehat, justru berpotensi membuat terapi menjadi sia-sia. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Pharmaceutics pada April 2026 menemukan bahwa jenis cairan tertentu, terutama air mineral alkali, dapat mempercepat kerusakan lapisan pelindung obat dan melepaskan zat aktif jauh sebelum waktunya.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Semmelweis, Hongaria, menguji 22 jenis minuman terhadap tablet berlapis enterik—lapisan khusus yang dirancang agar obat tidak larut di lambung melainkan di usus. Hasilnya, air mineral alkali seperti Salvus dan Peridot mampu menembus lapisan tersebut hanya dalam waktu 5–15 menit. Pada uji dengan Salvus, lebih dari 90% kandungan obat terlepas prematur setelah lima menit perendaman, yang oleh peneliti disebut sebagai “kegagalan lapisan hampir total.”
Sebaliknya, air keran dan air saring justru menghasilkan pelepasan obat yang lebih rendah dan sesuai yang diharapkan. “Fakta bahwa pasien yang paling mungkin membuka kapsul—lansia atau penderita disfagia—sering kali juga mengonsumsi air alkali, menjadikan ini masalah keamanan nyata, bukan sekadar keingintahuan laboratorium,” ujar Nikolett Kállai-Szabó, PhD, penulis utama studi tersebut.
Studi ini juga meneliti leaflet informasi pasien dan ringkasan karakteristik produk (SmPC) dari 103 obat berlapis enterik. Hasilnya, 42 SmPC tidak memberikan panduan spesifik sama sekali, sementara 21 SmPC hanya menyarankan minum dengan “air” tanpa menyebut jenisnya. Hanya 9 SmPC yang memberikan instruksi jelas, seperti air, saus apel, jus apel, jus tomat, atau yogurt—semuanya untuk obat yang dapat dimanipulasi (dibelah, dihancurkan, atau dibuka).
Menurut Opel Baker, dokter umum di Mayfield Clinic Brighton & Hove yang tidak terlibat dalam studi, banyak pasien sadar bahwa jus jeruk bali dapat memengaruhi obat, tetapi sedikit yang menyadari bahwa air mineral, jus buah, minuman berprotein, atau minuman herbal juga bisa mengganggu stabilitas dan penyerapan obat. “Jika bukti kuat menunjukkan bahwa minuman tertentu mengurangi efektivitas obat, maka panduan yang lebih jelas harus diberikan baik di leaflet maupun saat konsultasi,” tambah Baker.
Implikasi studi ini sangat relevan bagi Indonesia, di mana konsumsi air mineral kemasan—termasuk yang berlabel alkali—semakin populer. Banyak pasien lansia atau mereka yang memiliki kesulitan menelan cenderung memilih air mineral karena dianggap lebih bersih dan praktis. Namun, tanpa panduan yang memadai, risiko kegagalan terapi meningkat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan organisasi profesi medis di Indonesia dapat mempertimbangkan untuk memperkuat informasi pada kemasan obat, setidaknya mencantumkan rekomendasi sederhana seperti “gunakan air keran matang atau air saring.”
Para peneliti berharap temuan ini mendorong regulator farmasi global untuk meninjau kembali pedoman administrasi obat. “Kami hanya berharap studi seperti ini dapat mengisi celah, sehingga panduan masa depan memberi pasien dan pengasuh kejelasan lebih dalam situasi sehari-hari,” kata Kállai-Szabó. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah industri farmasi dan otoritas kesehatan merespons dengan merevisi leaflet obat, atau risiko ini akan terus diabaikan hingga kasus kegagalan terapi semakin meluas?



