Montella Tetap Nahkoda Turkiye: Presiden Federasi Tolak Wacana Mundur Usai Gagal di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Presiden Federasi Sepak Bola Turkiye, Ibrahim Haciosmanoglu, secara tegas membantah akan menerima pengunduran diri atau memecat Vincenzo Montella setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
- Montella dianggap masih punya prestasi, termasuk membawa Turkiye ke perempat final Euro 2024 dan lolos ke Piala Dunia, sehingga layak mendapat dukungan penuh.
- Keputusan ini menegaskan pendekatan berbeda Turkiye dibanding klub pada umumnya, dengan fokus pada pembangunan jangka panjang dan stabilitas tim.

Presiden Federasi Sepak Bola Turkiye (TFF), Ibrahim Haciosmanoglu, memastikan bahwa pelatih asal Italia, Vincenzo Montella, tidak akan mengundurkan diri maupun dipecat meskipun tim nasional Turkiye tersingkir di babak grup Piala Dunia 2026. Penegasan ini disampaikan Haciosmanoglu di hadapan wartawan menjelang sesi latihan, meredam spekulasi yang berkembang setelah performa buruk Turkiye di turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tersebut.
Turkiye datang ke Piala Dunia 2026 dengan status sebagai salah satu kuda hitam, namun kenyataan di lapangan jauh dari ekspektasi. Mereka kalah 2-0 dari Australia di laga pembuka, kemudian takluk 1-0 dari Paraguay yang bermain dengan 10 orang sejak babak kedua. Hasil tersebut membuat laga terakhir melawan Amerika Serikat hanya bersifat formalitas, dan skuad yang diperkuat nama-nama seperti Kenan Yildiz dan Hakan Calhanoglu harus pulang lebih awal.
Kegagalan ini memicu gelombang kritik dan desakan agar Montella mundur atau dipecat, terutama karena ia baru saja menandatangani kontrak baru yang berlaku hingga Juli 2028. Namun, Haciosmanoglu dengan tegas menutup pintu bagi skenario tersebut. โSaya tidak pernah memberinya kesempatan untuk mengatakannya. Kami tidak pernah melakukan percakapan seperti itu, dan tidak perlu memberinya kesempatan untuk mengatakannya,โ ujar Haciosmanoglu, seperti dikutip Football Italia.
Haciosmanoglu menekankan bahwa federasi berdiri teguh di belakang pelatih dan para pemain. โKami akan mendukung pelatih kami, dan kami akan mendukung pemain kami. Ini bukan tim klub, dan bahkan di klub, kegagalan terjadi karena kurangnya konsistensi. Anda tidak bisa menyingkirkan 15 pemain dan mendatangkan 15 pemain baru, atau mengganti pelatih dengan yang lain,โ jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar pemain Turkiye masih berusia sekitar 20 tahun dan berpotensi tampil di tiga atau empat turnamen mendatang.
Pendekatan ini menunjukkan perbedaan filosofi antara federasi Turkiye dengan klub-klub yang kerap berganti pelatih secara instan. Haciosmanoglu menegaskan bahwa jika staf pelatih dan pemain ini mampu meraih kesuksesan dalam dua tahun terakhir, maka mereka layak dipertahankan. โMedia selama dua hari terakhir menulis nama-nama berbagai pelatih, tetapi mereka yang mengenal karakter kami harus menyadari bahwa kami tidak pernah mengganti mereka yang telah bersama kami dengan orang yang baru kami temui,โ tambahnya.
Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini memberikan pelajaran tentang pentingnya stabilitas dalam pembangunan tim nasional. Di tengah budaya instan yang kerap melanda sepak bola tanah air, keputusan TFF untuk tetap mempertahankan Montella meskipun gagal di Piala Dunia bisa menjadi bahan refleksi. Apakah federasi sepak bola Indonesia akan berani mengambil langkah serupa jika Timnas Garuda mengalami kegagalan di turnamen besar? Atau justru sebaliknya, tekanan publik akan memaksa pergantian pelatih secara cepat?
Ke depan, Montella dihadapkan pada tugas berat untuk membangun kembali kepercayaan publik dan mempersiapkan tim menuju turnamen-turnamen berikutnya. Dengan dukungan penuh dari federasi, ia memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa kegagalan di Piala Dunia 2026 hanyalah sebuah batu loncatan menuju kesuksesan yang lebih besar. Pertanyaannya, akankah para pemain muda Turkiye mampu bangkit dan belajar dari pengalaman pahit ini?



