Park Ji-sung Kecam Performa Timnas Korea: Persiapan Kacau, Ulang Tragedi 2014?
Baca dalam 60 detik
- Legenda sepak bola Korea, Park Ji-sung, secara terbuka mengkritik performa timnas setelah dikalahkan Afrika Selatan 1-0, menyoroti ketiadaan rencana serangan yang jelas.
- Park membandingkan situasi saat ini dengan kegagalan Piala Dunia 2014, di mana Korea tersingkir di fase grup, dan meragukan kemampuan tim untuk tampil baik meski masih berpeluang lolos.
- Kritik tajam ini muncul di tengah kekhawatiran publik Korea Selatan terhadap persiapan tim yang dinilai tidak maksimal, sebuah pelajaran berharga bagi sepak bola Asia termasuk Indonesia.

Kekalahan tipis 1-0 dari Afrika Selatan pada laga pamungkas grup membuat legenda hidup sepak bola Korea Selatan, Park Ji-sung, angkat bicara. Ia menilai performa tim asuhan Paulo Bento tidak hanya mengecewakan, tetapi juga mengingatkan pada kegagalan total di Piala Dunia 2014 silam. Kritik pedas ini langsung menjadi sorotan di Negeri Ginseng, mengingat Park adalah ikon yang membawa Korea ke semifinal 2002.
Dalam analisisnya sebagai komentator TV, Park menyoroti absennya skema serangan yang terstruktur sepanjang turnamen. Menurutnya, masalah ini sudah terlihat sejak laga pertama dan tidak kunjung diperbaiki. โTidak ada rencana yang terlihat untuk menyerang. Ini masalah yang sama selama Piala Dunia ini,โ ujar Park, seperti dikutip media setempat. Ia juga menyayangkan keputusan menempatkan kapten Son Heung-min di bangku cadangan saat melawan Afrika Selatan.
Korea Selatan sebenarnya masih memiliki peluang tipis untuk lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Namun, Park pesimistis timnya bisa tampil kompetitif jika terus bermain tanpa visi. โBahkan jika kemungkinan lolos masih ada, saya tidak yakin kami bisa menunjukkan performa bagus di panggung itu dengan level permainan saat ini,โ tegasnya.
Park secara eksplisit membandingkan situasi saat ini dengan kegagalan 2014, di mana Korea tersingkir di fase grup setelah hanya meraih satu poin. โKami punya banyak waktu untuk merenungkan apa yang salah di Piala Dunia 2014. Tapi kali ini lagi, proses persiapan dan hasilnya seperti pengulangan masa itu,โ sesalnya. Kritik ini menyentuh titik sensitif publik Korea, yang masih trauma dengan kegagalan 2014 di Brasil.
Bagi sepak bola Asia, kegagalan Korea Selatan menjadi pengingat bahwa persiapan matang dan kesinambungan strategi adalah kunci. Tim-tim Asia seperti Indonesia yang tengah membangun fondasi sepak bola nasional bisa belajar dari kasus ini. Tanpa perencanaan jangka panjang, potensi besar sekalipun bisa sia-sia di panggung dunia.
Ke depan, federasi sepak bola Korea (KFA) diprediksi akan menghadapi tekanan besar untuk melakukan evaluasi total. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka belajar dari kesalahan masa lalu, atau justru mengulangi siklus kegagalan yang sama? Sementara itu, para penggemar sepak bola Asia hanya bisa berharap tim-tim favorit mereka tidak mengalami nasib serupa.



