Lamine Yamal: Bakat Langka La Masia yang Kini Bersinar di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Lamine Yamal mencetak gol debutnya di Piala Dunia 2026 saat melawan Arab Saudi, hanya sepuluh menit setelah turun sebagai starter.
- Mantan reporter Barça TV dan pelatih akademi Barcelona mengungkapkan bahwa Yamal sudah menunjukkan keistimewaan sejak usia 7 tahun, dengan kemampuan yang tidak bisa diajarkan.
- Yamal disebut sebagai 'paket lengkap' yang potensinya belum tergali sepenuhnya, menjadi bukti nyata keunggulan sistem pembinaan La Masia.

Lamine Yamal, remaja 18 tahun yang menjadi andalan lini depan Spanyol di Piala Dunia 2026, mencetak gol perdananya di turnamen tersebut saat menghadapi Arab Saudi. Hanya sepuluh menit setelah laga dimulai, pemain sayap yang dikenal lincah itu sudah membobol gawang lawan, menegaskan bahwa bakat yang terlihat sejak kecil kini bersinar di panggung terbesar sepak bola dunia.
Gol tersebut bukanlah kejutan bagi mereka yang mengikuti perjalanan Yamal sejak awal. Mantan reporter Barça TV, Jaume Marcet, dan pelatih akademi Barcelona, Marc Serra, menceritakan bagaimana mereka menyaksikan langsung kilau pertama sang pemain saat masih berusia 7 tahun. Dalam pertandingan kelompok usia U-8 di Don Bosco, Yamal mencetak dua gol, salah satunya dengan tendangan luar kaki yang memenangkan pertandingan. "Dia sudah berada di level yang berbeda sejak kecil," kenang Marcet.
Serra, yang menangani program 7 lawan 7 di akademi Barcelona, mengingat saat Yamal mengikuti uji coba di lapangan 6 kompleks latihan klub. "Ada anak ini yang memiliki sesuatu yang berbeda. Kami melihat atribut yang tidak bisa diajarkan—entah dipelajari di jalanan atau sudah dibawa sejak lahir," ujarnya. Yamal langsung menonjol di antara ratusan calon pemain lain yang mencoba peruntungan di La Masia.
Marcet membandingkan Yamal dengan legenda sepak bola seperti Johan Cruyff, Diego Maradona, dan Lionel Messi. "Ayah saya dulu bilang, 'Kamu tidak akan pernah melihat pemain seperti Cruyff.' Lalu mereka yang melihat Maradona berkata, 'Tak akan ada lagi yang seperti Diego.' Kemudian Messi muncul. Dan kini, jenius kreatif berikutnya—seorang pesulap—lahir dari La Masia lagi," katanya. Perbandingan itu menunjukkan betapa istimewanya Yamal di mata para pengamat yang telah lama mengikuti sepak bola.
Bagi Indonesia, kisah Yamal menjadi cermin pentingnya pembinaan usia dini dan sistem akademi yang matang. La Masia, akademi Barcelona, telah melahirkan deretan pemain top dunia, dan Yamal adalah bukti terbaru. Sementara Indonesia masih berjuang membangun infrastruktur sepak bola dasar, keberhasilan Yamal mengingatkan bahwa investasi pada pembinaan anak-anak sejak usia dini adalah kunci untuk melahirkan talenta kelas dunia. Tidak ada jalan pintas; yang ada adalah proses panjang yang dimulai dari lapangan kecil dengan pelatih yang peka terhadap bakat alami.
Serra menambahkan bahwa Yamal terus menunjukkan visi bermain yang melampaui usianya. "Saya suka melihat anak ini bermain—saat masih muda, kami melihatnya melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan anak 11 atau 12 tahun. Kini dia 18 tahun dan masih melihat permainan dengan cara yang tidak bisa kami pahami," ujarnya. Marcet pun optimistis: "Bagi saya, dia paket lengkap. Saya bahkan rasa kita belum melihat setengah dari kemampuan Lamine."
Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana Yamal akan melangkah? Dengan bakat yang sudah teruji di panggung Piala Dunia, mampukah ia menjadi pewaris tahta Messi di Barcelona dan membawa Spanyol meraih gelar juara? Atau justru tekanan ekspektasi yang terlalu tinggi akan menghambat perkembangannya? Yang jelas, dunia sepak bola tengah menyaksikan kelahiran seorang bintang baru yang potensinya nyaris tak terbatas.



