Ma Ning, Wasit China yang Jadi Pusat Perhatian di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Wasit asal China, Ma Ning, memimpin laga Kuraçao vs Ekuador di Piala Dunia 2026, menjadi wasit utama China pertama dalam 24 tahun.
- Meski Timnas China gagal lolos, publik China menjadikan Ma Ning sebagai simbol kebanggaan di tengah krisis sepak bola domestik.
- Fenomena ini menunjukkan bagaimana sepak bola China mencari figur alternatif untuk mengobati kekecewaan atas prestasi tim nasional.

Wasit asal China, Ma Ning, menjadi sorotan publik setelah memimpin pertandingan perdana Grup A Piala Dunia 2026 antara Kuraçao dan Ekuador di Stadion Kansas City, Sabtu (20/6). Meskipun laga berakhir tanpa gol, kehadiran Ma Ning di lapangan hijau mencatat sejarah baru bagi sepak bola China: untuk pertama kalinya dalam 24 tahun, seorang wasit asal negeri Tirai Bambu bertindak sebagai pengadil utama di ajang empat tahunan tersebut.
Media pemerintah China, seperti China Daily dan CCTV, ramai-ramai memuji penampilan Ma Ning yang dinilai tenang dan tegas. Dalam laporan yang dirilis Senin (22/6), China Daily menyebut Ma Ning mengeluarkan satu kartu kuning untuk Ekuador dan lima kartu kuning untuk Kuraçao. “Ini adalah keterlibatan paling signifikan ofisial China di Piala Dunia dalam lebih dari dua dekade,” tulis harian tersebut. CCTV bahkan membagikan video aksi Ma Ning yang telah ditonton lebih dari 3,3 juta kali.
Fenomena ini menarik karena terjadi di tengah kegagalan Timnas China lolos ke Piala Dunia 2026. Pada Juni lalu, China tersingkir dari kualifikasi Asia setelah kalah 1-0 dari Indonesia. Kekecewaan publik terhadap sepak bola China kian dalam akibat maraknya kasus korupsi di level tertinggi, termasuk larangan seumur hidup bagi mantan presiden Asosiasi Sepak Bola China (CFA) dan mantan pelatih tim nasional. Di tengah situasi suram itu, Ma Ning muncul sebagai figur yang membangkitkan kembali semangat nasionalisme.
Julukan “Card Master” yang disematkan penggemar domestik mencerminkan gaya kepemimpinannya yang disiplin. Dalam pertandingan lokal tahun 2015, ia mengeluarkan sembilan kartu kuning dan tiga kartu merah dalam satu laga. Namun, di Piala Dunia, ia justru dinilai mampu mengendalikan emosi pemain tanpa harus mengeluarkan kartu merah. Seorang pengguna Weibo dengan nama Yuki Zhi berkomentar, “Satu-satunya wasit yang tidak akan menyerah pada tekanan.”
Antusiasme publik China terhadap Ma Ning tidak hanya terlihat di media sosial, tetapi juga dalam perilaku menonton. Banyak penggemar mengaku menonton pertandingan Kuraçao vs Ekuador hanya untuk melihat aksi Ma Ning. “Saya bahkan tidak pernah mendengar kedua negara ini,” tulis seorang pengguna. “Tentu saja, jika bukan karena Ma, siapa yang akan menonton pertandingan ini?” Fenomena ini mengingatkan pada euforia serupa ketika pemain seperti Lionel Messi dan Erling Haaland menjadi idola di China, meski kali ini figur yang dielu-elukan adalah seorang wasit.
Bagi Indonesia, kisah Ma Ning memberikan gambaran tentang bagaimana sepak bola bisa menjadi alat diplomasi dan kebanggaan nasional meski prestasi tim nasional sedang terpuruk. Di Indonesia, di mana Timnas juga berjuang untuk tampil di Piala Dunia, figur wasit atau ofisial yang berprestasi di kancah internasional bisa menjadi inspirasi serupa. Namun, tantangan korupsi dan tata kelola yang buruk juga menghantui sepak bola Indonesia, mirip dengan yang dialami China.
Ke depan, Ma Ning dijadwalkan memimpin lebih banyak pertandingan di Piala Dunia 2026. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa dan terus menjadi kebanggaan China? Atau akankah tekanan dari publik yang begitu tinggi justru menjadi bumerang? Yang jelas, Ma Ning telah membuktikan bahwa sepak bola China tidak hanya bisa bersinar melalui pemain, tetapi juga melalui wasit yang tegas dan berwibawa.



