FIFA Ubah Aturan Perebutan Posisi Grup Piala Dunia 2026: Rekor Head-to-Head Jadi Penentu Utama
Baca dalam 60 detik
- Mulai Piala Dunia 2026, jika dua tim atau lebih memiliki poin sama di fase grup, rekor pertemuan langsung (head-to-head) menjadi kriteria pertama, menggantikan selisih gol yang digunakan sebelumnya.
- Perubahan ini membuat hasil laga antar tim yang bersaing menjadi krusial, bukan sekadar mengejar kemenangan besar melawan tim lemah untuk memperbaiki selisih gol.
- Jika semua kriteria termasuk poin disiplin dan peringkat FIFA masih imbang, undian yang dulu sempat digunakan hingga 1994 kini dihapus dan digantikan peringkat FIFA terbaru.

FIFA resmi mengubah aturan penentuan peringkat di fase grup Piala Dunia 2026. Jika sebelumnya selisih gol menjadi parameter pertama saat dua tim atau lebih memiliki poin sama, kini rekor head-to-head atau hasil pertemuan langsung antar tim yang bersangkutan akan lebih diutamakan. Perubahan ini menandai pergeseran filosofi kompetisi: hasil duel langsung dianggap lebih adil ketimbang akumulasi gol melawan tim yang mungkin jauh lebih lemah.
Aturan baru ini berlaku mulai putaran final yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dalam sistem sebelumnya, tim sering kali 'mengejar' selisih gol dengan mencetak sebanyak mungkin gol ke gawang lawan yang lebih lemah, sementara hasil imbang atau kalah tipis dari rival langsung bisa diatasi dengan kemenangan besar. Kini, setiap poin dan gol dalam laga head-to-head menjadi sangat krusial.
Urutan kriteria perebutan posisi grup yang baru adalah: pertama, poin terbanyak dari pertandingan head-to-head antar tim yang imbang; kedua, selisih gol dalam pertandingan head-to-head; ketiga, jumlah gol dicetak dalam head-to-head; keempat, selisih gol di seluruh pertandingan grup; kelima, jumlah gol dicetak di seluruh grup; keenam, skor perilaku tim (berdasarkan kartu kuning dan merah); dan terakhir, peringkat FIFA terbaru. Jika semua masih imbang, maka peringkat FIFA menjadi penentu—menggantikan undian yang sempat menjadi momok di masa lalu.
Konsekuensi dari aturan ini sangat terasa bagi tim-tim yang kerap mengandalkan kemenangan besar. Misalnya, jika Timnas Indonesia—yang bermimpi lolos ke Piala Dunia—suatu saat berada dalam grup yang ketat, hasil imbang atau kemenangan tipis atas rival langsung bisa lebih berharga daripada menang 5-0 atas tim yang sudah tersingkir. Ini juga mendorong pelatih untuk lebih fokus pada taktik spesifik melawan lawan terdekat di klasemen.
Sejarah mencatat, sistem tie-breaker di Piala Dunia telah beberapa kali berubah. Pada 1954 dan 1958, play-off digunakan untuk memecah kebuntuan. Antara 1970 hingga 1994, undian menjadi penentu terakhir—seperti yang dialami Republik Irlandia pada 1990. Saat itu, Irlandia dan Belanda imbang sempurna di semua kriteria, dan undian membuat Irlandia finis kedua serta melaju ke perempat final, sementara Belanda harus menghadapi Jerman Barat dan tersingkir. Sejak 1994, undian tidak lagi digunakan, dan kini digantikan peringkat FIFA.
Bagi publik sepak bola Indonesia, perubahan ini patut dicermati. Meski Timnas Indonesia belum pernah lolos ke Piala Dunia, aturan ini bisa menjadi pertimbangan dalam strategi jangka panjang PSSI. Jika Indonesia ingin bersaing di level Asia, pendekatan berbasis head-to-head menuntut konsistensi dan disiplin, bukan sekadar mengejar gol. Selain itu, skor perilaku tim yang memasukkan aspek fair play bisa menjadi keunggulan jika Indonesia mampu menjaga kartu kuning dan merah seminimal mungkin.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah aturan ini akan membuat fase grup lebih menarik atau justru mendorong permainan defensif? Tim yang sudah unggul head-to-head mungkin akan bermain aman di laga terakhir, sementara tim yang tertinggal harus menyerang habis-habisan. Yang pasti, Piala Dunia 2026 akan menjadi laboratorium pertama bagi sistem baru ini.



