Bukan Sekadar ‘Pembicaraan Satu Kali’: Mengapa Orangtua Perlu Terbuka Soal Menstruasi Sejak Dini
Baca dalam 60 detik
- Para ahli menekankan bahwa diskusi tentang menstruasi sebaiknya dimulai sebelum anak memasuki masa pubertas, bukan menunggu hingga menstruasi pertama tiba.
- Kunci keberhasilan bukan pada kesempurnaan penjelasan, melainkan pada sikap tenang dan terbuka orangtua yang menormalisasi topik tersebut.
- Di era digital, orangtua perlu menjadi ‘filter tepercaya’ dengan mengajarkan literasi media dan menyediakan sumber informasi yang akurat.

Momen ‘pembicaraan menstruasi’ pertama antara ibu dan anak seringkali berlangsung canggung, bahkan di lorong supermarket sekalipun. Namun, para psikolog dan dokter kandungan sepakat: yang lebih penting dari penyampaian sempurna adalah membangun komunikasi berkelanjutan yang membuat anak merasa aman bertanya kapan pun.
Dr. Yeong Huiqing, dokter residen di DTAP, mengungkapkan bahwa kegugupan justru lebih sering berasal dari orangtua, bukan anak. “Anak-anak membaca isyarat dari orang dewasa. Jika kita tetap tenang dan terbuka, mereka pun akan merasa nyaman,” ujarnya. Ia menyarankan agar topik menstruasi diperlakukan seperti pembicaraan kesehatan biasa, bukan ‘ceramah besar’ satu kali yang menegangkan.
Menurut Dr. Judith Ong, konsultan endokrinologi reproduksi di National University Hospital, usia rata-rata menstruasi pertama (menarche) adalah 12 tahun, dengan perkembangan payudara dimulai sekitar dua tahun sebelumnya. Rentang normal menarche adalah 9–15 tahun. “Waktu yang tepat untuk memulai percakapan adalah saat anak menunjukkan tanda pubertas, seperti tumbuh payudara, rambut kemaluan, atau lonjakan tinggi badan,” jelasnya.
Dr. Yeong menambahkan, diskusi bisa dimulai lebih awal, antara usia 8–10 tahun, sebelum pubertas dimulai. “Anak-anak di usia ini cenderung lebih ingin tahu, terbuka, dan belum terlalu malu. Mereka mampu memahami penjelasan sederhana dan lebih mungkin mengajukan pertanyaan,” katanya. Pendekatan dini membantu menormalisasi menstruasi sebagai bagian alami kehidupan, bukan hal tabu.
Di Indonesia, stigma seputar menstruasi masih kuat di beberapa daerah. Banyak anak perempuan mendapat informasi pertama justru dari teman atau media sosial, yang belum tentu akurat. Dr. Yeong mengingatkan, “Jangan pernah mengabaikan pertanyaan anak atau apa yang mereka lihat online. Akui dengan tenang, lalu ajarkan literasi media bahwa tidak semua informasi di internet benar.”
Orangtua juga perlu membekali anak dengan pengetahuan praktis, seperti jenis pembalut (malam hari, aliran deras), cara penggunaan yang higienis, serta kapan harus mencari bantuan medis. Dr. Ong menyarankan menyediakan parasetamol di rumah untuk mengantisipasi nyeri haid, dan mendiskusikan siklus normal agar anak bisa mengenali jika ada kelainan.
Jika anak bereaksi malu atau canggung, Dr. Yeong menyarankan pendekatan tidak langsung, misalnya sambil berbelanja pembalut bersama. “Jangan memaksakan percakapan jika anak belum siap. Jadilah pemandu tepercaya, bukan pengontrol informasi,” katanya.
Ke depannya, tantangan orangtua bukan hanya menjelaskan ‘cara kerja’ menstruasi, tetapi juga mendampingi anak menghadapi perubahan fisik dan emosi masa pubertas. Akankah stigma perlahan luntur jika komunikasi terbuka dimulai lebih dini? Jawabannya ada pada keberanian orangtua untuk memulai percakapan—meski terbata-bata di lorong supermarket.



