Brooklyn Beckham Raup Rp15 Miliar dari Iklan Piala Dunia yang Mencemooh Keretakan Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Brooklyn Beckham dikabarkan menerima bayaran Rp15 miliar untuk membintangi iklan DoorDash bertema Piala Dunia 2026 yang menyindir konflik dengan orang tuanya.
- Iklan tersebut menuai kritik dari pihak keluarga Beckham yang menilai tindakan Brooklyn tidak peka dan hanya mencari keuntungan dari situasi keluarga yang memilukan.
- Kontroversi ini memicu perdebatan publik tentang batasan antara hak berekspresi dan etika dalam memonetisasi masalah pribadi.

Brooklyn Beckham, putra sulung pasangan selebritas David dan Victoria Beckham, dikabarkan menerima bayaran fantastis sebesar Rp15 miliar (setara US$1 juta) untuk sebuah iklan layanan pesan-antar makanan DoorDash yang secara terang-terangan menyindir keretakan hubungannya dengan keluarga besar Beckham. Iklan bertema Piala Dunia 2026 itu langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial, tidak hanya karena nilai kontraknya yang selangit, tetapi juga karena dianggap mengeksploitasi luka keluarga yang belum sembuh.
Dalam video berdurasi pendek yang dirilis pekan lalu, Brooklyn terlihat duduk sendirian di ruang tamu sambil melempar setumpuk tiket Piala Dunia ke lantai. Dengan nada sinis ia berkata, "Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya menonton Piala Dunia 2026 dari rumah... Ceritanya panjang." Iklan ditutup dengan tulisan "Ini rumit. Nanti disambung lagi." Adegan tersebut sengaja menampilkan jam tangan mewah senilai £250.000—mirip dengan pemberian sang ayah—di atas meja kopi, memperkuat pesan tentang jarak emosional yang kini membentang di antara mereka.
Sumber dari lingkungan keluarga Beckham mengungkapkan kekecewaan mendalam atas keputusan Brooklyn. "Melakukan iklan yang menjadikan keretakan keluarga sebagai lelucon, padahal keluarganya hancur dan adik serta kakek-neneknya tidak bisa dihibur, sungguh tidak pantas," ujar seorang sumber kepada The Sun. Pihak keluarga menilai langkah ini kontradiktif: Brooklyn sebelumnya mengaku ingin privasi, tetapi justru memonetisasi konflik pribadi. "Dia bilang tidak mau berurusan dengan keluarga, tapi sekarang dia memanfaatkan warisan ayahnya—Piala Dunia—sebagai alat jualan," tambah sumber tersebut.
Kontroversi ini bermula dari unggahan Instagram Brooklyn pada Januari lalu yang mengejutkan publik. Dalam pernyataan panjang, ia menuduh orang tuanya terus-menerus membocorkan cerita keluarga ke media dan menegaskan tidak ingin berdamai. "Saya diam selama bertahun-tahun, tetapi orang tua saya dan tim mereka terus pergi ke pers. Saya tidak punya pilihan selain bicara," tulisnya. Ia juga menyinggung perilaku ibunya yang dianggap tidak pantas saat pernikahannya dengan Nicola Peltz pada 2022, memicu spekulasi ketegangan antara Nicola dan Victoria.
Di Indonesia, fenomena ini memantik diskusi tentang batasan antara hak individu untuk mengekspresikan diri dan tanggung jawab moral terhadap keluarga. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa tindakan Brooklyn mencerminkan tren generasi muda yang lebih terbuka mengumbar konflik pribadi demi popularitas dan keuntungan finansial. "Namun, ketika menyangkut keluarga, ada nilai-nilai ketimuran yang tetap dijunjung. Masyarakat Indonesia cenderung mengutuk tindakan yang dianggap mempermalukan keluarga di depan umum," ujarnya. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi para selebritas dan publik figur bahwa konten viral belum tentu sejalan dengan etika sosial.
Iklan DoorDash versi lengkap menunjukkan Brooklyn memberikan tiket Piala Dunia kepada seorang kurir, lalu mengajak pemirsa mengikuti undian berhadiah tiket. Langkah ini dinilai sebagai strategi pemasaran yang cerdik, tetapi juga berisiko memperdalam jurang pemisah antara Brooklyn dan keluarganya. Hingga berita ini diturunkan, David dan Victoria Beckham belum memberikan tanggapan resmi. Pertanyaan besarnya: apakah langkah ini akan membuka jalan bagi rekonsiliasi, atau justru menjadi babak baru dalam saga keluarga Beckham yang semakin rumit?



