Malagò Godok Restrukturisasi Timnas Italia: Maldini Target Prioritas, Kekuasaan Tak Terbatas Disiapkan
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIGC Giovanni Malagò menjadikan Paolo Maldini sebagai prioritas utama untuk posisi direktur teknis Timnas Italia, dengan wewenang penuh atas sektor teknis dan pembinaan usia muda.
- Rencana ideal Malagò adalah menempatkan Maldini sebagai arsitek 'Club Italia' baru, baru kemudian menunjuk Antonio Conte sebagai pelatih kepala, sebuah skema yang didukung Lega Serie A.
- Kendala muncul karena Maldini dilaporkan masih ragu menerima tawaran tersebut, sementara FIGC belum memiliki rencana cadangan yang matang.

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang baru terpilih, Giovanni Malagò, tengah mendorong restrukturisasi besar-besaran di tubuh Timnas Italia. Prioritas utamanya saat ini bukanlah menunjuk pelatih kepala, melainkan membujuk legenda AC Milan, Paolo Maldini, untuk menerima jabatan direktur teknis dengan kekuasaan yang belum pernah diberikan sebelumnya kepada siapa pun di posisi tersebut.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Kamis (20/2), skema ideal Malagò adalah membangun ulang hierarki teknis Timnas Italia dengan Maldini sebagai arsitek utamanya. Rencana ini mendapat dukungan dari Lega Serie A dan perwakilannya, yang baru saja memberikan mandat kepada Malagò dalam pemilihan presiden FIGC. Dalam skema tersebut, penunjukan Antonio Conte sebagai pelatih kepala baru akan dilakukan setelah Maldini resmi menjabat.
Jika Maldini menyetujui tawaran ini, ia akan memimpin proyek ambisius bernama 'Club Italia'—sebuah entitas baru yang memberinya kendali penuh tidak hanya atas tim senior, tetapi juga seluruh sektor teknis dan pembinaan usia muda. Wewenang yang ditawarkan kepada Maldini disebut-sebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di tubuh federasi, menandai perubahan radikal dalam struktur manajemen sepak bola Italia.
Langkah Malagò ini menunjukkan ambisinya untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Italia setelah beberapa tahun terakhir mengalami pasang surut. Dengan memberikan kekuasaan luar biasa kepada Maldini—seorang ikon yang dihormati di dalam dan luar lapangan—FIGC berharap dapat membangun fondasi yang kokoh untuk regenerasi pemain dan kesuksesan jangka panjang. Namun, rencana ini bukannya tanpa hambatan.
SportItalia melaporkan bahwa Maldini belum sepenuhnya yakin untuk menerima peran tersebut. Keraguan ini menjadi tantangan serius karena FIGC, menurut La Gazzetta dello Sport, belum memiliki rencana cadangan yang matang jika negosiasi dengan Maldini gagal. Situasi ini menempatkan Malagò dalam posisi yang genting: ia harus meyakinkan Maldini dalam waktu dekat, atau kembali ke papan gambar untuk mencari alternatif.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah FIGC ini menarik untuk dicermati. Jika berhasil, model 'Club Italia' dengan figur sentral seperti Maldini bisa menjadi referensi bagi PSSI dalam membangun struktur pembinaan usia muda yang lebih terpadu. Saat ini, PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir tengah berupaya mereformasi sistem sepak bola nasional, termasuk pembentukan timnas usia muda yang lebih kompetitif. Keberhasilan Italia dalam mengintegrasikan legenda sepak bola ke dalam manajemen teknis bisa menjadi pelajaran berharga.
Rapat dewan federal FIGC pada Rabu mendatang akan menjadi momen krusial. Keputusan yang diambil tidak hanya akan menentukan masa depan Maldini dan Conte, tetapi juga arah sepak bola Italia untuk satu dekade ke depan. Pertanyaan besarnya: mampukah Malagò mewujudkan skema ambisiusnya, atau akankah keraguan Maldini menggagalkan rencana besar ini?



