Menaker Yassierli: Generasi Muda Wajib Bekali Diri dengan Keterampilan Relevan dan Karakter Kuat
Baca dalam 60 detik
- Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mendesak generasi muda Indonesia segera mengasah keterampilan yang sesuai kebutuhan industri dan memperkuat karakter agar tak tergerus disrupsi teknologi.
- Laporan Future of Jobs 2025 memproyeksikan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta secara global hingga 2030, namun 92 juta posisi berpotensi lenyap akibat otomatisasi dan AI.
- Tanpa transformasi SDM yang masif, target Indonesia menjadi lima besar ekonomi dunia pada 2045 terancam mandek di tengah bonus demografi yang hanya terjadi sekali ini.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan bahwa generasi muda Indonesia tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi: dunia kerja berubah drastis akibat kecerdasan buatan, otomatisasi, dan ekonomi hijau, sehingga penguasaan keterampilan teknis dan karakter kuat menjadi syarat mutlak untuk bertahan dan bersaing.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (22/6/2026), Yassierli menggarisbawahi bahwa transformasi digital dan pola kerja jarak jauh telah mengubah peta kompetensi global. Ia merujuk pada Future of Jobs Report 2025 dari Forum Ekonomi Dunia yang memperkirakan 22 persen pekerjaan akan terdampak perubahan hingga 2030. Pada periode yang sama, sekitar 170 juta lapangan kerja baru diproyeksikan muncul, sementara 92 juta posisi lainnya berpotensi hilang digantikan mesin dan algoritma.
โLanskap dunia kerja terus berubah. Karena itu, kita perlu menyiapkan generasi masa depan agar memiliki kemampuan untuk berkembang dan menghadapi berbagai perubahan yang akan datang,โ ujar Yassierli. Ia menekankan bahwa kebutuhan kompetensi tidak lagi statis; kemampuan belajar sepanjang hayat, adaptasi, dan penguasaan teknologi menjadi prasyarat utama.
Bagi Indonesia, urgensi ini terasa lebih akut. Yassierli mengingatkan bahwa negara tengah menikmati bonus demografi โ jumlah penduduk usia produktif melimpah โ yang hanya terjadi sekali dalam sejarah. Peluang menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045, dengan pendapatan per kapita mencapai 23.000โ30.300 dolar AS sebagaimana tertuang dalam RPJPN 2025โ2045, hanya bisa diraih jika sumber daya manusia (SDM) unggul dan adaptif benar-benar tersedia.
โKarena itu, generasi masa depan perlu dibekali keterampilan yang relevan agar mampu beradaptasi dan bersaing di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis,โ kata Yassierli. Ia menambahkan bahwa keterampilan teknis saja tidak cukup. Karakter seperti integritas, disiplin, tanggung jawab, etika, dan empati menjadi fondasi yang membedakan talenta berkualitas dari sekadar tenaga kerja terampil.
Di tengah kemajuan AI yang semakin pesat, kemampuan manusia yang tak bisa digantikan teknologi justru kian bernilai. Kemampuan membangun kepercayaan, berempati, berkomunikasi, memimpin, dan bekerja sama menjadi keunggulan kompetitif yang harus terus diasah. โKeterampilan masa depan harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter,โ tegas Yassierli.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah sistem pendidikan dan pelatihan vokasi Indonesia sudah cukup gesit untuk mengejar laju perubahan industri? Jika tidak, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana pengangguran massal. Pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan dituntut berkolaborasi merancang kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan pasar kerja masa depan.



