Lari Solidaritas 290 Km Berujung di Parlemen: Nasib Tiga Gajah Malaysia di Jepang Mendesak
Baca dalam 60 detik
- Seorang aktivis menyelesaikan lari enam hari sejauh 290 km dari Taiping ke Parlemen Malaysia untuk menyerahkan memorandum pemulangan tiga gajah yang dikirim ke Kebun Binatang Tennoji, Osaka.
- Presiden MCA Dr. Wee Ka Siong menerima dokumen tersebut dan berjanji membawa isu kesejahteraan gajah Dara, Amoi, dan Kelat ke sidang parlemen.
- Langkah diplomatik dan tekanan publik dinilai krusial mengingat kekhawatiran atas kesehatan gajah yang kian meningkat sejak keberangkatan mereka pada Maret lalu.

Upaya memulangkan tiga gajah asal Malaysia yang kini menghuni kebun binatang di Jepang resmi memasuki arena parlemen setelah sebuah memorandum diserahkan kepada Presiden MCA, Datuk Seri Dr. Wee Ka Siong, Senin (22/6) pagi. Dokumen tersebut merupakan puncak dari aksi lari solidaritas sejauh 290 kilometer yang ditempuh selama enam hari oleh Ketua Biro Urusan Masyarakat Pemuda Barisan Nasional, Neow Choo Seong, dari Kebun Binatang Taiping hingga gedung Parlemen di Kuala Lumpur.
Memorandum itu mendesak pemerintah Malaysia untuk segera mengkaji kondisi dan kemungkinan repatriasi Dara, Amoi, dan Kelatโyang kerap disingkat DAKโdari Tennoji Zoo, Osaka. Ketiga gajah tersebut diberangkatkan ke Jepang pada 11 Maret lalu, dan sejak itu berbagai kelompok pecinta hewan serta masyarakat luas menyuarakan kekhawatiran atas kesejahteraan mereka. Dr. Wee, yang juga anggota parlemen Ayer Hitam, menyatakan akan terus mengangkat isu ini di sidang parlemen dan menekankan perlunya perhatian lebih serius terhadap nasib ketiga satwa tersebut.
Dalam pernyataannya, Dr. Wee mengapresiasi kegigihan para aktivis dan organisasi non-pemerintah yang terus menyuarakan nasib DAK. Menurutnya, kesadaran publik memainkan peran penting dalam menjaga kesejahteraan hewan. Ia juga memberi selamat kepada Neow yang berhasil menyelesaikan lari sendirian meskipun menghadapi tantangan fisik berat. Neow sendiri menegaskan bahwa aksinya bukanlah soal dirinya, melainkan upaya memberi suara bagi Dara, Amoi, dan Kelat serta mengingatkan warga Malaysia bahwa mereka adalah bagian dari warisan satwa liar negeri ini.
Sepanjang perjalanan, Neow berhenti di sejumlah titik untuk bertemu warga dan menyebarkan kesadaran tentang kondisi tiga gajah tersebut. Pada etape terakhir menuju Parlemen, ia ditemani sejumlah tokoh publik, antara lain mantan Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin, Senator Ng Keng Heng, mantan anggota parlemen Bangi Ong Kian Ming, aktivis Shereen Yunos, serta para pendukung kesejahteraan hewan lainnya. Kehadiran figur-figur ini menunjukkan bahwa isu DAK telah melampaui batas partai dan golongan.
Neow berharap memorandum yang diserahkan menjadi awal diskusi lebih luas antara otoritas terkait dan anggota parlemen mengenai masa depan ketiga gajah. โWaktu terus berjalan. Kekhawatiran atas kesehatan dan kesejahteraan mereka semakin meningkat, dan kami yakin nasib mereka membutuhkan perhatian segera,โ ujarnya. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana pemerintah Malaysia bersedia menempuh jalur diplomasi dan negosiasi dengan pihak Jepang untuk memulangkan DAK, serta apakah tekanan publik cukup kuat untuk mendorong langkah konkret dalam waktu dekat.



