Harga Minyak Terus Merosot: Selat Hormuz Kembali Jadi Pusat Ketegangan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI kembali turun pada Senin pagi, memperpanjang koreksi dua pekan yang mencapai 15% akibat perubahan ekspektasi pasokan global.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan penurunan drastis lalu lintas kapal memicu kekhawatiran baru, meskipun pasar sempat optimis pasokan kembali normal.
- Ketidakpastian geopolitik dan ancaman AS terhadap Iran membuat prospek harga minyak masih volatil, berpotensi mempengaruhi biaya energi dan inflasi di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Senin (22/6/2026), melanjutkan tren koreksi signifikan yang telah berlangsung sejak pertengahan Juni. Brent tercatat di US$79,48 per barel, turun 1,35%, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah tipis 0,18% ke US$76,46 per barel. Pergerakan ini terjadi di tengah ketidakpastian pasokan yang justru kian memanas akibat ulah Iran di Selat Hormuz.
Dalam dua pekan terakhir, Brent telah kehilangan sekitar 14,6% nilainya dari puncak US$93,10 per barel pada 10 Juni, sementara WTI turun 15% dari level US$90,03. Awalnya, koreksi didorong oleh ekspektasi bahwa pasokan minyak dari Timur Tengah akan kembali lancar setelah ketegangan Iran-Israel mereda. Namun, langkah Iran yang kembali menutup Selat Hormuz pada akhir pekan lalu mengubah arah sentimen pasar secara drastis.
Data dari Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di selat strategis itu merosot tajam: hanya lima kapal yang melintas pada Minggu, dibandingkan 26 kapal sehari sebelumnya. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak global, menghubungkan produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran ke pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Gangguan di titik ini langsung memicu kekhawatiran akan lonjakan harga.
Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, menilai pasar mungkin terlalu cepat berasumsi bahwa Selat Hormuz akan kembali normal. Menurutnya, Iran memiliki insentif kuat untuk mempertahankan tekanan di jalur pelayaran tersebut sebagai alat tawar dalam negosiasi geopolitik. โKetegangan masih tinggi, dan risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang,โ ujarnya.
Ketidakpastian kian bertambah setelah perundingan pertama antara pejabat Amerika Serikat dan Iran di Swiss berjalan alot. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran jika perkembangan diplomatik tidak sesuai harapan Washington. Di sisi lain, sejumlah produsen Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak justru mulai membuka keran pasokan lebih lebar. Irak bahkan berencana meningkatkan produksi secara bertahap hingga kisaran 4,2-4,3 juta barel per hari.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran subsidi energi dan inflasi. Meskipun harga saat ini masih di bawah asumsi APBN 2026 sebesar US$82 per barel, ketidakstabilan pasokan akibat konflik Timur Tengah dapat memicu lonjakan impor minyak dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu mewaspadai potensi kenaikan harga BBM dan listrik jika tren pelemahan ini berbalik arah.
Ke depan, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada eskalasi konflik di Selat Hormuz serta hasil negosiasi AS-Iran. Jika Iran benar-benar memblokade jalur tersebut secara berkepanjangan, bukan tidak mungkin harga Brent kembali menembus US$90 per barel dalam waktu singkat. Sebaliknya, jika diplomasi berhasil dan pasokan mengalir normal, koreksi bisa berlanjut. Pertanyaannya, seberapa cepat pasar bisa beradaptasi dengan realitas geopolitik yang masih cair?



