Sinyal Kenaikan Suku Bunga: Anggota Dewan BOJ Dorong Langkah Agresif Setiap Beberapa Bulan
Baca dalam 60 detik
- Anggota dewan BOJ, Naoki Tamura, mengusulkan kenaikan suku bunga 0,25% setiap beberapa bulan hingga mencapai level netral 2%.
- Tekanan inflasi dari konflik Timur Tengah dan pelemahan yen menjadi pendorong utama sikap hawkish ini.
- Pemerintah Jepang cenderung menginginkan suku bunga rendah untuk mendorong permintaan domestik, menimbulkan potensi konflik kebijakan.

Bank of Japan (BOJ) kembali mendapat tekanan dari internal untuk mempercepat normalisasi kebijakan moneternya. Anggota dewan yang dikenal hawkish, Naoki Tamura, secara terbuka mendesak kenaikan suku bunga setiap beberapa bulan sekali, bahkan siap mempercepat lajunya jika risiko inflasi meningkat.
Dalam pidatonya di Kobe, Kamis (25/6), Tamura menyebutkan bahwa inflasi inti telah mencapai target 2% dan risiko kenaikan harga patut diwaspadai terlepas dari perkembangan di Timur Tengah. Ia mengusulkan kenaikan bertahap sebesar 0,25% setiap beberapa bulan menuju level netral 2%. "Jika kemungkinan risiko kenaikan harga meningkat, perlu mempercepat laju kenaikan tanpa ragu dengan menambah frekuensi atau besaran," tegasnya.
Seruan ini muncul setelah BOJ pada Juni 2026 menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 31 tahun, yaitu 1%, didorong oleh kenaikan harga energi akibat perang Iran dan pelemahan yen yang memperparah biaya impor. Tamura, mantan bankir komersial, sebelumnya termasuk dalam tiga anggota dewan yang gagal mengusulkan kenaikan suku bunga pada April lalu.
Meskipun pandangan Tamura dianggap lebih hawkish dibanding anggota dewan lain, pernyataannya mencerminkan kekhawatiran yang meluas di BOJ terhadap tekanan harga yang terus berlanjut. Inflasi konsumen telah berada di sekitar target 2% selama hampir empat tahun, didorong oleh pasar tenaga kerja yang ketat dan depresiasi yen yang mendekati level terendah dalam empat dekade.
Namun, tekanan politik justru datang dari arah sebaliknya. Pemerintah Jepang, melalui draf rencana ekonomi jangka panjang yang dilihat Reuters, menyerukan kebijakan moneter yang mendukung permintaan swasta. Ini menandakan preferensi agar BOJ menjaga biaya pinjaman tetap rendah, berpotensi menimbulkan gesekan dengan sikap hawkish sebagian anggota dewan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat Jepang merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi. Kenaikan suku bunga BOJ berpotensi memperkuat yen, yang dapat menekan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek, namun juga mengurangi tekanan impor dari Jepang. Di sisi lain, jika BOJ terlalu agresif, risiko perlambatan ekonomi Jepang bisa berdampak pada permintaan ekspor Indonesia.
Rapat BOJ pada 30-31 Juli akan menjadi momen krusial. Pasar menanti apakah sikap Tamura mendapat dukungan atau justru meredup di tengah desakan pemerintah. Pertanyaan besarnya: akankah BOJ mempertahankan independensinya atau menyerah pada tekanan politik untuk menjaga pertumbuhan?



