IHSG Terjun Bebas ke 5.883, Asing Jual Rp1,23 Triliun, Rekomendasi Saham SCMA hingga BFIN
Baca dalam 60 detik
- IHSG ambles 3,56% ke 5.883,88 pada 24 Juni 2026, dipicu aksi jual asing Rp1,23 triliun di pasar reguler dan kekhawatiran rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS.
- PT Bach Multi Global Tbk (BACH) akan IPO pada 1-3 Juli 2026 dengan harga Rp400-500 per saham, target dana Rp307,5 miliar untuk bayar utang dan beli genset.
- TBLA bagikan dividen Rp60/saham (yield 9,23%), sementara BSML target pendapatan naik 152% dan tidak bagi dividen demi ekspansi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 3,56% ke posisi 5.883,88 pada perdagangan Rabu (24/6/2026), tertekan aksi jual investor asing yang mencapai Rp1,23 triliun di pasar reguler dan Rp1,17 triliun di seluruh pasar. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran rupiah yang mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS serta peninjauan lanjutan reformasi pasar modal oleh MSCI.
Seluruh sektor saham ditutup di zona merah, dengan sektor bahan baku menjadi yang terpuruk paling dalam, turun 6,64%. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, MORA, dan BBRI menjadi pemberat utama indeks, masing-masing terkoreksi 3,27%, 11,76%, dan 3,44%. Sebaliknya, saham gorengan seperti BHAT, BINA, dan BOGA justru mencatat kenaikan signifikan, masing-masing 15,91%, 9,01%, dan 4,55%.
Dari pasar global, indeks Dow Jones menguat 0,35% ke 51.848, namun S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,10% dan 0,43%. Sentimen negatif dari dalam negeri juga tercermin pada indeks MSCI Indonesia yang turun 3,77% dan ETF EIDO yang melemah 3,35%.
Di tengah tekanan pasar, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026. Perusahaan penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi telekomunikasi ini menawarkan 615 juta saham baru (15,06% dari modal ditempatkan) dengan harga Rp400โ500 per saham, sehingga berpotensi mengantongi dana hingga Rp307,5 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk membayar pinjaman revolving ke Bank Permata sebesar Rp91,02 miliar dan sisanya untuk modal kerja, termasuk pembelian 436 unit genset secara bertahap hingga Oktober 2026. Masa penawaran umum berlangsung 1โ3 Juli 2026.
Sementara itu, PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML) menargetkan pendapatan Rp159,84 miliar pada 2026, melonjak 152% dibanding target tahun sebelumnya Rp63,4 miliar. Laba bersih ditargetkan naik menjadi Rp16,37 miliar dari Rp2,52 miliar. Untuk mencapai target, perseroan akan melakukan diversifikasi usaha, optimalisasi armada, dan pengembangan layanan pendukung transportasi laut. Manajemen memutuskan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025 demi memperkuat modal kerja dan ekspansi.
Di sisi lain, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) mengumumkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp60 per saham, total Rp360,25 miliar, setara 40,03% laba bersih. Dengan harga saham Rp650 per saham, dividend yield mencapai 9,23%. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 29 Juni 2026, pembayaran 22 Juli 2026. Sepanjang 2025, TBLA membukukan pendapatan Rp22,88 triliun (naik 31,4%) dan laba bersih Rp900,02 miliar (naik 28,57%).
Analis merekomendasikan sejumlah saham untuk perdagangan hari ini, antara lain SCMA (buy 210-212, target 218-224, stop loss 199), BFIN (buy 700-705, target 715-725, stop loss 665), JSMR (buy 2860-2870, target 2930-2950, stop loss 2730), dan SAME (buy 340-344, target 350-354, stop loss 324). Investor disarankan mencermati level support dan resistance serta mengelola risiko secara ketat di tengah volatilitas tinggi.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada stabilitas rupiah, aliran dana asing, serta hasil peninjauan MSCI. Jika tekanan jual asing berlanjut dan rupiah terus melemah, indeks berpotensi menguji level support 5.800. Sebaliknya, katalis positif seperti IPO BACH dan pembagian dividen TBLA bisa memberikan sentimen sementara.



