Protes 'Kecoa' di India: Mahasiswa Tuntut Menteri Mundur Atas Bocornya Soal Ujian
Baca dalam 60 detik
- Ratusan mahasiswa pengikut Gerakan Kecoa (CJP) menggelar aksi unik dengan membenturkan piring dan sendok di depan parlemen New Delhi, menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan.
- Aksi ini merupakan respons atas bocornya soal ujian masuk program kedokteran nasional yang beredar di Telegram, memicu penundaan ujian dan pelarangan sementara aplikasi tersebut di India.
- Gerakan yang lahir dari komentar hakim agung yang menyebut pengangguran sebagai 'kecoa' ini telah mengumpulkan 22 juta pengikut di Instagram, memperluas isu ke pengangguran dan biaya hidup.

Ratusan mahasiswa dan pendukung Gerakan Kecoa (Cockroach Janta Party/CJP) menggelar aksi unik di depan gedung parlemen New Delhi, Sabtu (22/6), dengan membenturkan piring dan sendok baja sebagai simbol protes. Mereka mendesak Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mundur atas dugaan kebocoran soal ujian nasional yang berulang kali terjadi.
Aksi yang berlangsung di bawah pengawasan ketat aparat keamanan, termasuk kamera dan drone, ini menjadi tekanan baru bagi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi. Para pengunjuk rasa membawa poster dan menciptakan hiruk-pikuk dengan membenturkan peralatan dapur, sebuah sindiran terhadap seruan Modi saat pandemi Covid-19 pada 2020 yang meminta warga membunyikan peralatan dapur dari balkon sebagai dukungan bagi tenaga kesehatan.
Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, seorang mahasiswa Boston University yang juga ahli strategi komunikasi politik, mengajak pendukungnya membawa piring dan sendok melalui media sosial. โAda virus bernama Dharmendra Pradhan yang harus disingkirkan,โ ujarnya di hadapan massa. Dipke menambahkan bahwa pihaknya terbuka untuk berdialog jika Pradhan mundur.
Kebocoran soal ujian kedokteran yang terjadi pada bulan lalu melalui aplikasi Telegram memicu kemarahan luas. Pemerintah terpaksa menunda ujian dan melarang sementara Telegram di India, meskipun penyelidikan masih berlangsung. Seorang mahasiswa, Vicky Kumar, meluapkan kekesalannya: โKami belajar dalam kemiskinan, hidup dalam kemiskinan 24 jam sehari, bertahun-tahun, lalu soal ujian kami bocor. Apakah saya tidak boleh marah?โ
Gerakan ini bermula pada Mei lalu ketika Hakim Agung Surya Kant menyebut sebagian pemuda pengangguran sebagai โkecoaโ dalam sebuah pernyataan yang memicu kontroversi. Alih-alih tersinggung, para pendukung justru mengadopsi istilah tersebut sebagai simbol ketangguhan. Sejak itu, CJP berkembang menjadi gerakan yang menyuarakan isu pengangguran, kenaikan biaya hidup, dan akuntabilitas pemerintah.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya integritas sistem ujian nasional dan potensi dampak sosial dari komentar pejabat publik. Meskipun konteks politik berbeda, protes mahasiswa India menunjukkan bagaimana media sosial dapat memperkuat gerakan akar rumput. Di Indonesia, isu kebocoran soal ujian juga pernah terjadi, namun belum pernah memicu gerakan sebesar CJP. Pertanyaannya, apakah model protes kreatif seperti ini akan diadopsi oleh mahasiswa Indonesia jika menghadapi masalah serupa?
Ke depan, tekanan terhadap pemerintah India diperkirakan akan meningkat. CJP telah menyatakan akan melanjutkan aksi jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Skenario terburuk adalah meluasnya protes ke kota-kota lain, mengingat basis pengikut CJP yang besar di media sosial. Namun, pemerintah masih memiliki peluang untuk meredakan situasi dengan melakukan reformasi sistem ujian dan menindak tegas pelaku kebocoran.



