Gagal ke Piala Dunia 2026, Bintang Roma Mancini: Sakitnya Masih Terasa
Baca dalam 60 detik
- Gianluca Mancini mengaku tak sanggup menonton Piala Dunia 2026 karena Italia gagal lolos untuk ketiga kalinya berturut-turut.
- Bek Roma itu menilai kegagalan beruntun bukan sekadar masalah pembinaan pemain muda, melainkan persoalan sistemik yang lebih besar.
- Di tengah kekecewaan, Mancini menyambut antusias kembalinya Roma ke Liga Champions sebagai penyemangat baru.

Gianluca Mancini, bek tengah AS Roma, mengaku tidak sanggup menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung. Kegagalan Italia lolos kualifikasi untuk edisi ketiga berturut-turut meninggalkan luka yang masih terlalu dalam, bahkan sekadar sebagai penonton.
Dalam wawancara dengan Sky Sport yang dikutip TuttoMercatoWeb, Mancini blak-blakan mengenai dampak psikologis dari kegagalan tersebut. Ia menjadi salah satu pemain yang berada di lapangan saat Italia tumbang dari Bosnia dalam laga play-off, tepat sebelum kartu merah Alessandro Bastoni yang memupus harapan Gli Azzurri.
โSaya bisa bicara sebagai pemain yang gagal membawa tim ke Piala Dunia. Ini menyakitkan. Saya tidak menonton pertandingan, saya tidak bisa. Saya hanya melihat cuplikan, bukan pertandingan penuh. Sakit rasanya tidak berada di sana,โ ujar Mancini.
Mancini tidak mencari kambing hitam atas kegagalan beruntun Italia. Menurutnya, masalahnya jauh lebih kompleks dari sekadar pembinaan pemain muda atau kualitas pelatih. โJika kami gagal tiga kali, ini bukan sekadar masalah pemain muda, sektor pembinaan, atau pelatih. Ini lebih besar dari itu. Kami berharap bisa menyelesaikannya dalam beberapa tahun ke depan,โ tegasnya.
Pernyataan Mancini mencerminkan kegalauan yang meluas di kalangan pecinta sepak bola Italia. Negeri yang pernah empat kali juara dunia ini kini harus menyaksikan turnamen global dari kejauhan. Bagi Indonesia, kegagalan Italia menjadi pengingat bahwa tradisi sepak bola yang kuat pun bisa runtuh jika tidak ada perbaikan sistemik. Timnas Indonesia yang tengah berjuang meningkatkan kualitas tentu bisa mengambil pelajaran: keberhasilan jangka panjang membutuhkan fondasi yang kokoh, bukan sekadar talenta individu.
Di tengah kekecewaan, Mancini menyimpan secercah harapan. Ia mengaku sangat antusias menyambut kembalinya Roma ke Liga Champions musim depan. โSetelah pertandingan di Verona, saya memeluk Cristante dan membayangkan stadion-stadion megah, lagu khas yang belum pernah saya dengar sepanjang karier. Indah bahkan hanya untuk dibayangkan. Saya tidak sabar untuk bermain di kompetisi itu,โ ujarnya.
Kembalinya Roma ke pentas Eropa menjadi oase di tengah gurun kekecewaan Mancini. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: akankah Italia mampu bangkit dari keterpurukan ini, atau justru semakin terpuruk dalam persaingan sepak bola global? Waktu yang akan menjawab, tetapi Mancini dan para penggemar berharap luka ini segera terobati.



