Jonathan David Buka Suara: Gaya Main Berbeda di Timnas dan Juventus, Tapi Tak Ingin Pergi
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Kanada Jonathan David mencetak hat-trick di Piala Dunia setelah hanya delapan gol dalam 46 laga bersama Juventus musim ini.
- David mengakui perbedaan gaya bermain antara timnas dan klub menjadi faktor performanya, namun menegaskan komitmennya bertahan di Turin.
- Kontrak lima tahun dan biaya transfer yang sudah dikeluarkan Juventus membuat keputusan klub untuk melepasnya masih menjadi tanda tanya.

Penampilan gemilang Jonathan David bersama Timnas Kanada di Piala Dunia kontras dengan performanya yang lesu di Juventus. Striker berusia 25 tahun itu mengakui bahwa perbedaan gaya bermain antara kedua tim menjadi salah satu penyebabnya, namun ia bersikeras ingin bertahan di klub Serie A tersebut.
David, yang bergabung dengan Juventus secara gratis dari Lille pada musim panas lalu dengan biaya komisi mencapai 12,5 juta euro, hanya mampu mencetak delapan gol dan lima assist dalam 46 pertandingan kompetitif. Di bawah asuhan Igor Tudor dan kemudian Luciano Spalletti, ia kerap tampil kehilangan arah di lini depan Bianconeri. Namun, di Piala Dunia, ia justru menjadi bintang dengan hat-trick saat Kanada menghancurkan Qatar 6-0.
"Saya pikir ketika Anda bermain untuk klub atau tim nasional, itu pasti berbeda, karena kedua tim ini sangat berbeda," ujar David kepada RSI Sport. "Kanada memiliki gaya bermain yang berbeda, jadi kurang lebih semuanya berubah." Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa David mungkin lebih cocok dengan sistem permainan timnas yang lebih fleksibel dibandingkan taktik kaku yang diterapkan Juventus.
Meskipun performanya di klub jauh dari harapan, David menegaskan tidak berniat hengkang. "Saya memiliki kontrak lima tahun, jadi sejauh yang saya ketahui, saya akan tetap di sini," jawabnya saat ditanya soal masa depan. Namun, Juventus dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk melepasnya demi mendapatkan kembali sebagian dari investasi yang telah dikeluarkan. Manajemen klub menilai bahwa David belum mampu beradaptasi dengan kerasnya Serie A, dan penjualannya bisa menjadi solusi finansial di tengah tekanan anggaran.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus David menjadi pelajaran menarik tentang pentingnya adaptasi pemain terhadap sistem permainan. Di Liga Indonesia, banyak pemain asing yang gagal bersinar karena perbedaan gaya bermain dengan klub, meski tampil moncer di tim nasionalnya. Fenomena ini kerap terjadi pada pemain naturalisasi atau pemain diaspora yang kembali memperkuat negara asalnya.
Ke depan, keputusan Juventus akan menjadi kunci. Apakah mereka akan mempertahankan David dengan harapan ia bisa menemukan performa terbaiknya, atau justru melepasnya di bursa transfer musim panas? Sementara itu, David sendiri tampaknya lebih memilih bertahan dan membuktikan diri, meski tekanan dari suporter dan manajemen terus meningkat.



