Kisah Dua Putra Singapura yang Menjadi Pelindung Ayah dengan Disabilitas Intelektual
Baca dalam 60 detik
- Seorang ayah di Singapura dengan disabilitas intelektual ringan tetap menjadi sosok penuh kasih bagi kedua putranya, meski ia tak mampu membaca jam atau menghitung uang.
- Karthigeyan dan Shanger Pannerchelvam tumbuh sebagai pelindung ayah mereka, D. Pannerchelvam, yang didiagnosis mild intellectual disability dan epilepsi pada 2011.
- Kisah ini menyoroti tantangan keluarga dengan anggota disabilitas intelektual di Asia, termasuk di Indonesia, di mana stigma dan akses layanan masih terbatas.

Di sebuah flat sewaan di Hougang, Singapura, D. Pannerchelvam, 67 tahun, setiap malam dengan setia menyiapkan tas kerja putra bungsunya. Ia memasukkan kaus kaki dan kaus oblong, lalu mengucapkan "selamat tinggal" di pagi hari. Namun, Pannerchelvam tak bisa membaca jam, kesulitan membedakan nilai uang kertas, dan tak tahu pekerjaan kedua putranya. Ia adalah seorang ayah dengan disabilitas intelektual ringan, dan kedua putranya—Shanger, 29, dan Karthigeyan, 27—telah memikul peran ganda sebagai anak sekaligus pelindung.
Karthigeyan, yang kini bekerja sebagai eksekutif asosiasi layanan pasien di KK Women’s and Children’s Hospital, mengaku sejak kecil sudah merasakan ada yang berbeda pada ayahnya. "Jika ada yang bertanya, saya akan menjawab duluan. Saya tak ingin mereka curiga bahwa Ayah tidak normal," ujarnya dalam wawancara dengan The Straits Times menjelang Hari Ayah. Diagnosis baru ditegakkan pada 2011, saat Pannerchelvam mulai menunjukkan perilaku agresif dan dibawa ke Institute of Mental Health. Dokter menyatakan ia memiliki mild intellectual disability dengan skor IQ antara 55 dan 69, serta epilepsi.
Menurut laporan Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura 2024, ada sekitar 8.640 penyandang disabilitas intelektual berusia 19 tahun ke atas yang tercatat pemerintah, dengan 3 persen di antaranya berusia minimal 65 tahun. Angka ini belum termasuk mereka yang tidak terdata. Di Indonesia, data serupa masih terbatas, namun diperkirakan jumlah penyandang disabilitas intelektual mencapai ratusan ribu, dengan akses layanan kesehatan dan dukungan sosial yang belum merata.
Keluarga Pannerchelvam sempat terpuruk secara ekonomi. Sang ayah berhenti bekerja setelah diagnosis, dan ibu, Pusppa Nadeson, 59, harus berhenti sebagai pembersih karena penyakit pembuluh darah. Mereka bertahan dengan bantuan keuangan dan penghasilan paruh waktu kedua putra. Karthigeyan bahkan putus sekolah dari Nanyang Polytechnic untuk bekerja penuh, baru melanjutkan pendidikan setelah wajib militer dan meraih diploma di bidang manajemen ilmu kesehatan. "Saya belajar menghitung berapa banyak pelajaran yang bisa saya lewatkan untuk menemani orang tua ke dokter," kenangnya.
Meski keterbatasan kognitif sang ayah, hubungan mereka tetap hangat. Pannerchelvam yang kini stabil mengikuti program harian di pusat rehabilitasi Home Nursing Foundation. Ia membuat kartu untuk istrinya saat Hari Ibu, dan keluarga merayakan ulang tahunnya yang ke-67 dengan makan ayam favorit serta bingkai berisi uang kertas S$2 lawas. "Dua dolar itu setara dengan S$100 baginya, tapi ia tetap memberikannya pada kami," kata Karthigeyan. "Jika saya diminta menutup mata dan jatuh ke belakang, saya tahu Ayah akan menangkap saya."
Namun, ada luka yang tak terobati. Karthigeyan jujur bahwa ayahnya tak akan pernah memahami pencapaiannya—diploma, karier, atau perjuangan hidupnya. "Saya merasa orang tua saya tak akan pernah mengerti apa yang telah saya capai," ujarnya nyaris menangis. Meski demikian, ia tetap bersyukur. Kisah ini menjadi cermin bagi banyak keluarga di Asia, termasuk Indonesia, di mana disabilitas intelektual masih kerap disembunyikan karena stigma. Pertanyaannya, sudahkah sistem dukungan sosial dan kesehatan kita siap merangkul mereka?



