Kisah di Balik Tembok Kos: Taufik Hidayat Tutupi Penyiksaan Selama Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- Taufik Hidayat diduga menyembunyikan aksi penyiksaan terhadap YTR di kamar kos selama hampir tiga tahun dengan berbagai taktik manipulatif.
- Penjaga kos mengaku sering mendengar suara benturan keras, namun pelaku selalu memberikan alasan yang masuk akal untuk menepis kecurigaan.
- Korban akhirnya dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis pada awal Juni, mengungkap kekerasan yang telah lama terjadi.

Selama hampir tiga tahun, seorang perempuan berinisial YTR (29) diduga menjadi korban penyiksaan di dalam kamar kos di kawasan Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, tanpa terdeteksi oleh warga sekitar. Pelaku, Taufik Hidayat (30), disebut memiliki sejumlah siasat untuk menutupi aksi kekerasannya, mulai dari mengunci pintu rapat-rapat hingga memberikan alasan-alasan yang membuat situasi tampak wajar.
Mulyati, istri penjaga kos, mengungkapkan bahwa pintu kamar yang ditempati Taufik dan YTR selalu tertutup. Warga beberapa kali mendengar suara benturan keras dari dalam, namun tidak ada yang menyangka itu adalah tanda kekerasan. “Pelaku suka ke luar kosan untuk beli nasi atau keluar sebentar juga selalu dikunci. Takut ada orang atau feeling siapa-siapa masuk ke kosan,” ujar Mulyati, seperti dikutip detikJabar, Selasa (23/6).
Di mata tetangga, kamar kos itu tampak sepi. YTR hampir tidak pernah terlihat keluar atau berinteraksi dengan penghuni lain. Sementara Taufik lebih sering beraktivitas sendirian. Ketika ditanya, Taufik selalu punya jawaban: ia mengaku YTR mengalami gangguan penglihatan dan membutuhkan operasi mata. “Dia bilang sakit matanya mau operasi di RS. Cuma harus pakai BPJS dan harus ada uang Rp10 juta. Katanya istrinya itu kondisi matanya minus 17, jadi mata nggak lihat dari kecil,” kata Mulyati menirukan penjelasan pelaku.
Meski tidak pernah mendengar jeritan atau permintaan tolong, Mulyati mengaku sering mendengar suara pukulan atau tendangan ke tembok. “Enggak pernah terdengar (suara jeritan), hanya terdengar batuk si pelaku keras. … Suara pukulan atau tendangan ke tembok sering kedengaran,” ucapnya. Namun, setiap kali ia mendatangi kamar tersebut, Taufik selalu bisa menenangkan situasi. “Tapi ibu datangi gak ada apa-apa,” tambah Mulyati.
Taufik juga dikenal memiliki temperamen yang mudah meledak. Menurut Mulyati, ia kerap menunjukkan perilaku agresif, terutama setelah mabuk. “Suka tempramen, tiba-tiba ngajak berantem. … Tiap habis mabuk minta diantar ambil uang atau bakso tahu dan lain-lain,” katanya. Meskipun demikian, warga tidak pernah berani campur tangan karena tidak ada bukti nyata kekerasan.
Momen yang membuka tabir kekerasan terjadi pada awal Juni 2025, ketika YTR dibawa ke rumah sakit. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan hingga harus dipapah keluar kamar. Mulyati mengingat detik-detik evakuasi: “Kan pas mau ke rumah sakit minjem kerudung ke ibu. Didandanin lama. Grab nunggu lama. Grab mobil tanggal 9 Juni. Terus dibopong oleh pelaku. Muka tutupi si cewek. Mobil mundurin sampe gerbang. Pak Resa (penjaga kos) ikut dalam mobil pelaku di belakang. Pelaku naik motor ikutin dari belakang.”
Kasus ini menyoroti betapa rentannya korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terisolasi secara sosial. Di Indonesia, banyak kasus serupa tidak terdeteksi karena pelaku dengan cerdik menutupi aksinya dan korban enggan atau tidak bisa melapor. Polisi kini tengah menyelidiki kasus ini dan telah menetapkan Taufik sebagai tersangka. Pertanyaan yang tersisa: berapa banyak lagi korban yang masih terperangkap di balik tembok kos tanpa ada yang mendengar jeritan mereka?



