Bukan Sekadar Bersih-bersih: Filosofi Jepang di Piala Dunia yang Menginspirasi
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Jepang Hajime Moriyasu memuji tradisi suporter membersihkan stadion sebagai budaya yang patut dibanggakan.
- Kebiasaan ini sempat dikritik karena dianggap mengambil alih pekerjaan petugas kebersihan, namun Moriyasu membantahnya.
- Pertandingan Jepang vs Tunisia menjadi laga ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia sekaligus perayaan 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Pelatih tim nasional Jepang, Hajime Moriyasu, secara terbuka memuji tradisi suporter Negeri Sakura yang membersihkan tribun stadion usai pertandingan sebagai bentuk budaya yang patut dibanggakan. Dalam konferensi pers di Estadio Monterrey, Meksiko, Jumat (20/6), ia menyebut kebiasaan itu mencerminkan nilai gotong royong yang mengakar kuat di masyarakat Jepang.
Moriyasu mengungkapkan bahwa filosofi "meninggalkan tempat lebih bersih dari saat datang" telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya bagi suporter tetapi juga timnya. "Kami juga membersihkan ruang ganti sebelum meninggalkan stadion," ujarnya. Namun, ia mengakui bahwa kebiasaan ini pernah menuai kritik dari pihak yang menganggapnya mengurangi lapangan pekerjaan petugas kebersihan.
"Itu salah satu cara pandang, tetapi orang Jepang pada umumnya memiliki konsep untuk membuat tempat lebih bersih. Saya rasa itu tidak akan menghilangkan semua pekerjaan mereka," kata Moriyasu menanggapi kritik tersebut. Ia menambahkan bahwa sikap saling membantu dan bekerja sama adalah karakteristik utama masyarakat Jepang.
Menariknya, semangat ini ternyata menular. Moriyasu menceritakan bahwa usai sesi latihan di Nashville, Tennessee, petugas lapangan setempat ikut serta membersihkan area latihan bersama tim Jepang. "Mereka bergabung dengan mentalitas Jepang itu," katanya.
Bagi Indonesia, tradisi bersih-bersih ala Jepang ini bisa menjadi refleksi. Di tengah maraknya kampanye kebersihan stadion sepak bola Tanah Air, budaya serupa mulai digaungkan oleh sejumlah kelompok suporter. Namun, implementasinya masih sporadis dan belum menjadi gerakan massal seperti di Jepang. Jika kebiasaan ini dapat diadopsi secara luas, bukan tidak mungkin citra sepak bola Indonesia di mata dunia akan meningkat.
Moriyasu berharap pertandingan yang juga merupakan perayaan 70 tahun hubungan diplomatik Jepang-Tunisia ini dapat menjadi jembatan antarbudaya. "Akan luar biasa jika orang-orang di seluruh dunia dapat merasakan bahwa kedua negara, masyarakatnya, dan budaya yang berbeda terhubung melalui sepak bola," pungkasnya. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Indonesia meniru langkah Jepang dalam membangun budaya kebersihan di stadion?



