Paolo Maldini: Legenda yang Bisa Menyatukan Sepak Bola Italia Kembali
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini disebut sebagai figur langka yang mampu mempersatukan seluruh elemen sepak bola Italia, meski catatan prestasinya bersama timnas justru mengejutkan.
- Pengalaman panjangnya sebagai pemain dan direktur teknis di AC Milan menjadi modal utama untuk membangkitkan kembali kejayaan Azzurri.
- Langkah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menunjuk Maldini sebagai direktur teknis dinilai sebagai upaya strategis mengakhiri periode instabilitas.

Paolo Maldini, legenda hidup AC Milan dan mantan kapten timnas Italia, kembali menjadi sorotan setelah namanya disebut-sebut sebagai calon kuat direktur teknis Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Di tengah keterpurukan prestasi Azzurri yang gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan masih mencari identitas, Maldini dianggap sebagai satu-satunya figur yang mampu menyatukan kembali seluruh pemangku kepentingan sepak bola Italia.
Menurut analis sepak bola Italia, Susy Campanale, Maldini adalah sosok langka yang dihormati oleh semua pihakโmulai dari klub-klub Serie A, pelatih, hingga penggemar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa catatan Maldini bersama timnas Italia justru mengejutkan: ia tidak pernah memenangkan satu pun trofi internasional bersama Azzurri, dan beberapa momen pahit seperti kekalahan di final Piala Dunia 1994 dan 1998 masih membekas. Meski demikian, reputasinya sebagai pemimpin yang tenang dan berwibawa dianggap lebih penting daripada sekadar deretan medali.
Maldini bukanlah nama asing di ruang ganti. Sebagai pemain, ia mengoleksi 126 caps dan tujuh gelar Serie A serta lima trofi Liga Champions. Setelah pensiun, ia menjabat sebagai direktur teknis AC Milan dan berperan besar dalam membangun kembali skuad yang kemudian menjuarai Serie A 2021โ2022. Pengalaman itu dinilai sebagai bekal berharga untuk menangani masalah struktural di FIGC, yang selama ini kerap dilanda konflik internal dan pergantian pelatih yang terlalu cepat.
Konteks domestik Indonesia pun relevan. Negeri ini juga kerap menghadapi masalah serupa: instabilitas federasi, campur tangan politik, dan minimnya figur pemersatu. Kisah Maldini bisa menjadi pelajaran bahwa pemimpin yang disegani dan memiliki jejak prestasi di lapangan seringkali lebih efektif daripada birokrat murni. Di Indonesia, sosok seperti Bambang Pamungkas atau Kurniawan Dwi Yulianto kerap didorong untuk masuk ke struktur PSSI, namun belum ada yang benar-benar diberi peran strategis seperti yang kini diincar Maldini.
Langkah FIGC menunjuk Maldini bukan tanpa risiko. Banyak pihak meragukan kemampuannya beradaptasi dengan politik federasi yang kompleks. Namun, seperti diungkapkan Campanale, โJika ada satu orang yang bisa membuat semua orang duduk satu meja, itu adalah Maldini.โ Pertanyaan besarnya: apakah ia bersedia meninggalkan kenyamanan hidupnya di Milan untuk menerima tantangan ini? Keputusan itu akan sangat menentukan masa depan sepak bola Italia dalam satu dekade ke depan.



