Scott Phelan Resmi Tangani Everton Wanita, Target Papan Atas WSL
Baca dalam 60 detik
- Scott Phelan diangkat sebagai pelatih kepala permanen Everton Wanita setelah sukses sebagai caretaker sejak Februari.
- Ia membawa Everton dari zona degradasi ke posisi kedelapan WSL musim lalu, dengan tiga kemenangan beruntun di awal masa transisi.
- Phelan, yang pernah menimba ilmu di akademi Everton, berambisi mengembalikan tim ke papan atas klasemen.

Scott Phelan resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala permanen Everton Wanita, setelah sebelumnya menjabat sebagai pelatih interim sejak Februari lalu. Keputusan ini diumumkan klub pada Selasa (10/9), mengakhiri spekulasi mengenai siapa yang akan memimpin The Toffees di musim depan.
Pria berusia 38 tahun itu mengambil alih tim ketika Everton hanya berjarak empat poin dari dasar klasemen Women's Super League (WSL). Dalam masa transisinya, Phelan langsung mencuri perhatian dengan meraih tiga kemenangan beruntun di liga, sebuah pencapaian yang membantu tim finis di peringkat kedelapanโmelonjak dari posisi yang sempat terancam degradasi.
Karier Phelan di Everton bukanlah hal baru. Ia bergabung dengan akademi klub sejak usia delapan tahun, meski tak pernah menembus tim senior sebagai pemain. Ia kembali ke Goodison Park pada 2012 sebagai pelatih, dan kini mendapat kepercayaan penuh untuk menangani tim wanita. "Kesempatan memimpin tim wanita sebagai pelatih kepala adalah sesuatu yang tidak saya anggap remeh. Saya menantikan apa yang ada di depan," ujar Phelan dalam pernyataan resmi klub.
Phelan juga akan didampingi oleh mantan striker Everton, Phil Jevons, yang kembali ke klub pada Februari lalu sebagai asisten interim. Jevons, yang kini ditugaskan secara permanen, diharapkan bisa memberikan pengalaman dan stabilitas di ruang ganti. "Kami ingin terus maju dan mencoba kembali ke tempat yang seharusnya menjadi milik Everton Football Club, yaitu di papan atas klasemen," tegas Phelan.
Bagi sepak bola Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa klub-klub Eropa mulai serius mengelola tim wanita dengan menunjuk pelatih yang memiliki ikatan emosional dan pemahaman mendalam terhadap budaya klub. Model pengembangan pelatih dari akademi seperti Phelan bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub tanah air yang tengah membangun tim wanita. Di Liga 1, beberapa klub seperti Persija dan Arema sudah mulai merintis tim wanita, namun masih minim investasi pada pelatih lokal.
Langkah Everton ini juga menunjukkan bahwa kesabaran dan kepercayaan terhadap pelatih muda bisa membuahkan hasil. Di tengah tekanan untuk meraih hasil instan, Phelan membuktikan bahwa pendekatan bertahap mampu menyelamatkan tim dari keterpurukan. Pertanyaan besarnya: mampukah ia membawa Everton bersaing di papan atas WSL yang dikuasai Chelsea, Arsenal, dan Manchester City? Atau akankah ini hanya menjadi cerita sukses sesaat?



