Tartan Army Taklukkan Boston: 50.000 Suporter Skotlandia Bikin Kota Bergemuruh
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 50.000 pendukung Skotlandia membanjiri Boston selama fase grup turnamen, mencatat rekor penjualan bir dan merchandise.
- Warga Boston menyambut hangat 'Tartan Army' karena energi positifnya, bahkan mengusulkan pertukaran budaya rutin.
- Gubernur Massachusetts menandatangani dekrit yang melegalkan haggis, menandai dampak diplomatik dari kunjungan suporter.

Lebih dari 50.000 suporter Skotlandia yang dikenal sebagai Tartan Army berhasil memikat hati warga Boston hanya dalam waktu sepekan. Kehadiran mereka tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga menciptakan ikatan budaya yang langka antara dua bangsa yang terpisah samudra.
Kelompok suporter yang setia mengikuti tim nasional Skotlandia dalam dua pertandingan fase grup ini tercatat menghabiskan stok bir di sejumlah bar hingga harus dilakukan pengiriman darurat. Devon Savage dari Boston Beer, perusahaan yang memiliki Samuel Adams Taproom, mengungkapkan bahwa konsumsi bir lager Boston selama periode Kamis hingga Minggu mencapai empat kali lipat dibandingkan libur panjang Hari Kemerdekaan 4 Juli. "Kami menjual lebih dari 3.000 pint bir dan mengumpulkan 70 tong kosong pada Senin," katanya. Beberapa pub lain juga melaporkan rekor penjualan yang melampaui Super Bowl dan Hari St. Patrick.
Tak hanya bir, jersey Skotlandia pun ludes terjual. Sean Hemenway, pemilik toko perlengkapan sepak bola klasik di Boston, mencatat penjualan 67 unit jersey Skotlandia pada hari pertandingan hingga pukul 14.45 โ jauh melampaui penjualan jersey tim nasional Amerika Serikat. "Banyak warga Boston membeli jersey Skotlandia setelah bertemu para suporter. Orang Amerika biasanya tidak mudah bersimpati pada negara lain seperti ini," ujarnya. "Setelah orang Skotlandia pergi, ini akan jadi hari berkabung."
Namun dampak yang lebih mendalam terasa pada hubungan antarmanusia. Sebuah pertemuan yang diinisiasi melalui media sosial di Boston Common pada Rabu lalu dihadiri ratusan orang. Mereka saling bertukar minuman khas โ Irn Bru dari Skotlandia dan Root Beer dari Amerika โ sambil meneriakkan "No Scotland, No Party". Steve Castigilone, warga Boston berusia 30 tahun, mengaku jatuh cinta dengan keramahan orang Skotlandia. "Mereka membuat warga Boston yang dingin menjadi hangat. Saya bukan penggemar sepak bola, tapi sekarang saya jadi pendukung setia Skotlandia," katanya. Christian Harrington, 21 tahun, bahkan bercanda ingin mengubah nama New England menjadi New Scotland karena energi positif yang dibawa para tamu.
Kedekatan ini tidak lepas dari sejarah panjang hubungan Celtic antara Skotlandia dan Amerika Serikat bagian timur laut. Banyak warga Boston yang memiliki leluhur Skotlandia, sehingga kehadiran Tartan Army seperti menyambut kerabat jauh. Wali Kota Boston Michelle Wu mengaku merasa beruntung kota mereka menjadi tuan rumah dua pertandingan Skotlandia. "Kami berharap Tartan Army menjadikan Boston sebagai pangkalan mereka untuk waktu yang lama," ujarnya. Gubernur Massachusetts bahkan menandatangani perintah eksekutif yang melegalkan haggis โ hidangan khas Skotlandia โ di tingkat negara bagian, meskipun masih dilarang oleh hukum federal.
Fenomena ini mengingatkan pada euforia suporter sepak bola di Indonesia saat timnas bertanding di luar negeri. Meski skala dan konteks berbeda, semangat kebersamaan dan dampak ekonomi yang ditimbulkan serupa. Bagi Indonesia, momen seperti Piala Dunia U-20 atau turnamen regional bisa menjadi ajang serupa untuk membangun citra positif dan diplomasi budaya. Pertanyaannya, mampukah suporter Indonesia meniru jejak Tartan Army dalam menciptakan kenangan manis di mata tuan rumah?



