Salah Akhiri Mimpi Buruk 92 Tahun, Bawa Mesir ke Kemenangan Perdana di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Mohamed Salah mencetak satu gol dan satu assist untuk membawa Mesir mengalahkan Selandia Baru 2-1, sekaligus mengakhiri penantian 92 tahun negaranya meraih kemenangan pertama di Piala Dunia.
- Kemenangan ini menempatkan Mesir di ambang lolos ke babak 32 besar, cukup bermain imbang melawan Iran di laga terakhir grup.
- Prestasi ini menjadi penebus kegagalan Mesir di Piala Dunia 2018 dan absennya mereka di edisi 2022, sekaligus mengukuhkan status Salah sebagai ikon sepak bola Afrika.

Mohamed Salah akhirnya memutus kutukan panjang yang membayangi karier internasionalnya. Pemain berusia 32 tahun itu menjadi motor kemenangan bersejarah Mesir atas Selandia Baru dengan skor 2-1, sekaligus mengakhiri puasa kemenangan negaranya di Piala Dunia yang telah berlangsung selama 92 tahun sejak debut mereka pada 1934.
Dalam laga yang berlangsung di Stadion Internasional Auckland, Minggu (21/7), Mesir sempat tertinggal lebih dulu lewat gol cepat Selandia Baru pada menit ke-12. Namun, Salah membalas pada menit ke-67 melalui penyelesaian klinis di dalam kotak penalti, sebelum sepak pojoknya disundul oleh Trezeguet untuk memastikan kemenangan. Hasil ini menjadi yang pertama bagi Mesir dalam sembilan penampilan mereka di putaran final Piala Dunia.
Kemenangan ini membawa Mesir ke puncak klasemen Grup D dengan empat poin, unggul selisih gol atas Belgia yang juga mengoleksi empat angka. Iran berada di posisi ketiga dengan tiga poin, sementara Selandia Baru masih nirpoin. Pada laga terakhir, Mesir hanya membutuhkan hasil imbang melawan Iran untuk memastikan tiket ke babak 32 besar, bahkan tanpa perlu bergantung pada hasil pertandingan lain.
Perjalanan Salah di Piala Dunia memang penuh liku. Pada 2018, ia tampil dalam kondisi cedera bahu yang diderita di final Liga Champions, dan Mesir tersingkir di fase grup tanpa kemenangan. Kegagalan lolos ke Qatar 2022 semakin memperpanjang derita. Bahkan, pada laga pembuka turnamen ini, Salah tampil kurang meyakinkan saat ditahan imbang Belgia, dan ditarik keluar oleh manajer Hossam Hassanโkeputusan yang memicu spekulasi ketegangan di antara keduanya. Namun, Hassan membantah adanya perselisihan sebelum pertandingan melawan Selandia Baru.
Momen kebangkitan Salah mendapat apresiasi dari sejumlah pengamat. Mantan manajer Tottenham, Ange Postecoglou, menilai bahwa penampilan Salah membuktikan ketergantungan Mesir pada pemain bintangnya. "Ketika dibutuhkan, ia tampil. Itu akan memberikan kepercayaan diri besar bagi tim," ujarnya kepada ITV. Sementara itu, mantan pemain sayap Jamaika, Jobi McAnuff, menambahkan, "Tepat saat dibutuhkan, Mo Salah berdiri untuk negaranya."
Bagi publik sepak bola Indonesia, kisah Salah menjadi pengingat betapa pentingnya memiliki figur sentral yang mampu mengangkat performa tim di panggung terbesar. Mesir, yang selama ini bergantung pada pemain bintang seperti Salah, berhasil memutus rantai kegagalan justru ketika tekanan paling besar. Ini menjadi pelajaran berharga bagi tim-tim Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tengah berjuang meningkatkan daya saing di level internasional. Keberhasilan Mesir juga menunjukkan bahwa investasi pada pemain diaspora dan pembinaan usia dini dapat membuahkan hasil manis, meski butuh waktu puluhan tahun.
Di luar lapangan, masa depan Salah masih menjadi teka-teki. Setelah meninggalkan Liverpool pada musim panas ini, ia dikaitkan dengan sejumlah klub besar Eropa dan Timur Tengah. Namun, ia memilih untuk fokus penuh pada Piala Dunia demi memperbaiki catatan buruk sebelumnya. Kini, setelah mencetak sejarah, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Salah membawa Mesir melangkah lebih jauh, atau justru ini menjadi puncak terakhir dari karier gemilangnya bersama tim nasional?



