Kisah Cape Verde di Piala Dunia 2026: Mimpi Besar di Tengah Keterbatasan
Baca dalam 60 detik
- Cape Verde menahan imbang Uruguay 2-2, mengulang hasil serupa melawan Spanyol, dan kini bersaing merebut tiket ke fase gugur.
- Pelatih Bubista menegaskan bahwa prestasi ini membuktikan bahwa keterbatasan finansial bukan penghalang untuk bersaing di level tertinggi.
- Laga pamungkas melawan Arab Saudi akan menentukan nasib Cape Verde; kemenangan membuka peluang lolos sebagai salah satu runner-up terbaik.

Kepulan asap putih optimisme membubung tinggi di kubu Cape Verde setelah tim debutan Piala Dunia 2026 itu kembali mencuri perhatian dengan hasil imbang 2-2 melawan Uruguay, Minggu (21/6). Hasil ini, yang menyusul hasil serupa kontra Spanyol di laga perdana, menempatkan negara kepulauan Afrika itu di ambang sejarah: lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya.
Pelatih Cape Verde, Bubista, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Dalam konferensi pers seusai pertandingan di Miami, ia menekankan bahwa pencapaian anak asuhnya bukan sekadar soal sepak bola. "Kami ingin menunjukkan bahwa di lapangan, banyak hal menjadi setara. Sebesar apa pun lawan di panggung dunia, banyak tim nasional menjadi sama," ujarnya dengan senyum lebar. Filosofi ini, menurut Bubista, adalah pesan universal: mimpi bisa mengalahkan keterbatasan, termasuk soal finansial.
Cape Verde saat ini duduk di peringkat ketiga Grup C dengan dua poin, sama dengan Uruguay, dan tertinggal dua poin dari Spanyol yang memuncaki klasemen. Arab Saudi berada di dasar grup dengan satu poin. Format turnamen 48 tim yang memberi peluang bagi empat peringkat ketiga terbaik untuk lolos membuat segalanya mungkin. "Mengingat apa yang telah kami lakukan melawan dua tim kelas dunia, saya pikir fokus kami haruslah lolos," tegas Bubista.
Namun, misi Cape Verde tidak berhenti di papan skor. Bagi Bubista, turnamen ini adalah panggung untuk memperkenalkan identitas bangsanya ke seluruh dunia. "Kami di sini untuk menunjukkan negara kami. Bukan hanya cara kami bermain sepak bola, tetapi juga budaya, musik, sejarah, dan pendukung kami," katanya. Pernyataan ini mengingatkan pada semangat negara-negara kecil yang kerap menjadi underdog di ajang global, seperti Kosta Rika pada 2014 atau Islandia pada 2018.
Di sisi lain, Bubista tetap meminta anak asuhnya untuk tidak terbawa euforia. Laga melawan Arab Saudi dipastikan tidak akan mudah. "Mereka harus tetap membumi. Arab Saudi juga punya peluang lolos," peringatnya. Pertandingan tersebut akan menjadi ujian mental bagi para pemain Cape Verde yang belum pernah merasakan tekanan sebesar ini.
Menariknya, sebelum laga kontra Uruguay, Bubista memberikan hadiah kepada pelatih legendaris Uruguay, Marcelo Bielsa. "Bagi saya dan banyak pelatih lain, terutama di Afrika, Bielsa adalah seorang master. Saya sangat senang bisa bertemu langsung dengannya," ungkap Bubista. Gestur ini menunjukkan sisi humanis dari kompetisi yang kerap keras.
Bagi Indonesia, kisah Cape Verde menjadi cermin bahwa keterbatasan bukanlah akhir. Dengan populasi yang tidak jauh berbeda dengan beberapa kota besar di Tanah Air, Cape Verde membuktikan bahwa perencanaan yang matang, semangat kolektif, dan keberanian bermimpi bisa membawa hasil di panggung tertinggi. Pertanyaan besarnya: akankah federasi sepak bola Indonesia berani mengambil pelajaran dari negeri kepulauan di Afrika Barat ini?



