Tuchel Kembali Abaikan Alexander-Arnold, Pertahanan Inggris Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Cedera Tino Livramento memaksa Inggris memanggil Trevoh Chalobah, mempertegas kebijakan Tuchel yang mengutamakan bek bertubuh tinggi dan fisik kuat.
- Keputusan Tuchel tidak memanggil Trent Alexander-Arnold menuai kritik, terutama karena ia lebih memilih bek tengah ketimbang full-back alami sebagai pengganti.
- Lini belakang The Three Lions di Piala Dunia 2026 dianggap paling rapuh dalam satu dekade terakhir, dengan risiko cedera Reece James dan John Stones yang belum pulih sepenuhnya.

Cedera betis yang dialami Tino Livramento dalam sesi latihan menjelang laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 melawan Kroasia di Dallas memaksa pelatih Inggris Thomas Tuchel mengambil keputusan kontroversial: memanggil bek tengah Chelsea, Trevoh Chalobah, sebagai pengganti. Langkah ini kembali membuka luka lama soal absennya Trent Alexander-Arnold dari skuad utama, sekaligus menyoroti kerapuhan lini belakang yang menjadi titik terlemah The Three Lions di turnamen kali ini.
Livramento, yang diandalkan sebagai opsi di kedua sisi sayap pertahanan, sejatinya sudah menunjukkan tanda-tanda rentan cedera. Pemain Newcastle itu melewatkan sebagian besar akhir musim lalu karena masalah paha dan juga sempat absen akibat cedera hamstring. Kepergiannya membuat Inggris hanya memiliki tiga full-back alami: Reece James, Djed Spence, dan Nico O'Reilly. Sementara Dan Burn bisa ditempatkan di bek kiri, Jarell Quansah dan Ezri Konsa juga bisa bermain di posisi lebar, namun kekhawatiran muncul jika mereka harus menghadapi penyerang kelas dunia di posisi yang tidak biasa.
Pilihan Tuchel memanggil Chalobah—yang baru memiliki satu caps senior—menunjukkan preferensi kuat pelatih asal Jerman itu terhadap bek bertubuh jangkung dan kuat secara fisik. Chalobah, 26 tahun, hanya tampil sekali untuk Inggris dalam kekalahan 3-1 dari Senegal setahun lalu. Keputusan ini juga mengindikasikan bahwa Konsa akan lebih dipilih ketimbang Marc Guehi untuk mengisi pos bek tengah saat melawan Kroasia. Tuchel tampaknya mengulangi pola yang sama seperti ketika ia lebih memilih Curtis Jones, gelandang tengah, sebagai bek kanan saat melawan Andorra pada Juni lalu—sebuah sinyal bahwa Alexander-Arnold benar-benar tidak masuk dalam rencananya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik dicermati karena menunjukkan bagaimana filosofi pragmatis Tuchel bertolak belakang dengan pendekatan teknis yang kerap diidolakan di Asia. Di tengah gempuran taktik modern yang mengedepankan fleksibilitas, Tuchel justru memilih bek-bek dengan profil fisik dominan—mirip dengan strategi yang diterapkan pelatih-pelatih Eropa Timur di era 1990-an. Keputusan ini bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan pemain muda Indonesia: bahwa bakat teknis semata tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kesiapan fisik dan disiplin taktis.
Tuchel sendiri telah berulang kali menyoroti kelemahan defensif Alexander-Arnold. “Jika dia ingin berdampak di tim nasional Inggris, dia harus mengambil bagian defensif dengan sangat, sangat serius,” ujarnya dalam konferensi pers beberapa waktu lalu. “Satu kesalahan defensif, satu momen di mana Anda tidak 100% waspada, bisa menjadi penentu. Itu bisa menjadi momen di mana Anda mengemas koper dan pulang.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Alexander-Arnold, meskipun dianggap sebagai salah satu pemain paling berbakat secara alami di Inggris, tidak akan mendapatkan tempat selama Tuchel masih menjadi pelatih kepala.
Dengan hanya tiga full-back alami yang tersisa, dan dua di antaranya—James dan Stones—memiliki riwayat cedera kronis, Tuchel harus mengelola menit bermain dengan hati-hati di tengah kondisi panas dan lembap di Amerika Serikat. Inggris bahkan berpotensi menghadapi tuan rumah Meksiko di ketinggian Kota Meksiko jika lolos ke babak 16 besar. Situasi ini membuat lini belakang Inggris menjadi area yang paling tidak stabil dan paling mengkhawatirkan. Pertanyaannya, akankah keberuntungan berpihak pada Tuchel, atau justru eksperimen fisiknya akan menjadi bumerang di panggung terbesar sepak bola dunia?



