Lagu Piala Dunia: Dari Nostalgia Irlandia hingga Fenomena 'It's Coming Home'
Baca dalam 60 detik
- Lagu Piala Dunia era 1990-an seperti 'Put 'Em Under Pressure' dan 'World in Motion' dianggap tak tergantikan karena perpaduan inovasi musik dan keterlibatan pemain.
- Produser Barry Devlin menyebut 1990 sebagai titik balik, di mana lagu resmi mulai mengintegrasikan elemen pertandingan secara lebih cerdas.
- Fenomena 'It's Coming Home' dan adaptasi lagu daerah menunjukkan bagaimana lagu non-resmi justru menjadi identitas suporter di berbagai negara.

Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia, sorotan tak hanya tertuju pada aksi di lapangan hijau, tetapi juga pada lagu-lagu yang menemani perjalanan turnamen. Dari teriakan 'Olé, olé, olé' yang ikonik hingga lirik penuh harap 'it's coming home', lagu kebangsaan sepak bola telah menjadi ritual yang menyatukan suporter lintas generasi. Namun, di balik gemerlapnya, ada cerita tentang bagaimana sebuah lagu bisa abadi dan menjadi bagian dari folklore sepak bola.
Barry Devlin, basis grup Horslips yang riff gitarnya diadaptasi menjadi lagu 'Put 'Em Under Pressure' untuk Republik Irlandia, menilai tahun 1990 sebagai momen transformasional. Menurutnya, lagu seperti 'World in Motion' (Inggris) dan 'Put 'Em Under Pressure' berhasil menggabungkan inovasi teknis dengan elemen pertandingan secara lebih cerdas. "Tidak ada lagu yang bisa menandingi keduanya sejak saat itu," ujarnya kepada BBC. Lagu-lagu tersebut tidak hanya menjadi pengiring, tetapi juga cerminan optimisme buta yang melekat pada sepak bola.
Kisah di balik pembuatan 'Put 'Em Under Pressure' juga menarik. Devlin, yang pernah memproduksi demo awal U2, mengingat bagaimana ia harus bernegosiasi dengan ayah Larry Mullen Jr. yang menjemput putranya pada pukul tiga pagi karena harus sekolah. "Saya bilang, 'Pak Mullen, saya belum selesai dengan bass drum Larry.' Dia menjawab, 'Ah, sudah selesai!'," kenang Devlin. Momen-momen seperti inilah yang membuat lagu tersebut terasa autentik dan organik.
Di sisi lain, Gerry Armstrong, mantan pemain timnas Irlandia Utara, menceritakan pengalamannya merekam lagu 'Yer Man' bersama pemenang Eurovision Dana pada 1982. Awalnya para pemain gugup karena bukan penyanyi, tetapi setelah menenggak beberapa bir, suasana mencair. "Dana adalah seorang profesional, jadi dia memimpin. Kami hanya mengikuti lirik di kertas dan bersenang-senang," kata Armstrong. Lagu-lagu seperti ini menjadi kenangan manis bagi suporter yang lahir jauh setelah lagu tersebut dirilis.
Fenomena lagu non-resmi juga tak kalah menarik. Bagi suporter Inggris, 'Three Lions' dengan refrein 'it's coming home' telah menjadi mantra yang melampaui sekadar lagu. Frasa tersebut kini digunakan sebagai ejekan diri sekaligus harapan. Sementara itu, Skotlandia yang baru kembali setelah hampir tiga dekade, menjadikan lagu komedi 'Sláinte' sebagai favorit Tartan Army. Liriknya yang menyindir biaya perjalanan ke Amerika Serikat mendapat sambutan hangat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, fenomena lagu Piala Dunia ini bisa menjadi cermin bagaimana musik mampu memperkuat identitas dan kebersamaan. Meski Timnas Indonesia belum pernah lolos ke Piala Dunia, antusiasme suporter lokal terhadap turnamen ini tak kalah besar. Lagu-lagu seperti 'We Are The Champions' atau 'Indonesia Raya' yang dikumandangkan di stadion-stadion tanah air menunjukkan bahwa semangat yang sama juga hidup di sini.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: mampukah lagu-lagu resmi Piala Dunia modern, yang sering dibawakan oleh megabintang seperti Shakira atau Pitbull, menciptakan nostalgia yang sama seperti lagu-lagu era 1990-an? Atau justru lagu-lagu buatan suporter yang akan terus hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya? Yang jelas, lagu Piala Dunia bukan sekadar hiburan, melainkan dokumentasi emosi dan sejarah sepak bola itu sendiri.



