David Hattrick Bawa Kanada Hajar Qatar, Kunci Tiket 16 Besar Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kanada menang telak 6-0 atas Qatar di Vancouver, dengan Jonathan David mencetak tiga gol.
- Kemenangan ini menjadi kemenangan perdana Kanada di Piala Dunia, sekaligus membuka peluang lolos ke babak gugur.
- Qatar harus bermain dengan sembilan pemain setelah dua kartu merah, memperburuk catatan buruk mereka di turnamen.

Kanada akhirnya memecah kebuntuan di panggung Piala Dunia. Tim berjuluk The Maple Leafs itu mencatat kemenangan perdana dalam sejarah partisipasi mereka setelah menghancurkan Qatar dengan skor telak 6-0 di BC Place, Vancouver, Jumat (14/6) waktu setempat. Kemenangan ini sekaligus membawa mereka ke ambang pintu babak 16 besar Piala Dunia 2026, turnamen yang akan mereka gelar bersama Amerika Serikat dan Meksiko.
Bintang Lille, Jonathan David, menjadi aktor utama dengan mencetak hattrick. Ia membuka keran gol pada menit ke-29 melalui voli keras yang tak mampu dihalau kiper Mahmoud Abunada. David kemudian menambah gol kedua pada menit injury time babak pertama, dan menuntaskan hattrick-nya di menit akhir laga. Catatan ini membuatnya menjadi pemain pertama yang mencetak hattrick di kandang sendiri sejak Geoff Hurst melakukannya untuk Inggris pada final Piala Dunia 1966.
Dominasi Kanada tidak lepas dari keunggulan jumlah pemain. Qatar harus bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-30 setelah Homan Ahmed mendapat kartu merah langsung karena menjatuhkan Tajon Buchanan. Situasi semakin buruk bagi tim asuhan Julen Lopetegui saat Assim Madibo juga diusir wasit pada babak kedua. Bermain dengan sembilan pemain, Qatar tak berkutik menghadapi tekanan Kanada.
Selain David, dua gol lainnya dicetak oleh Cyle Larin pada menit ke-16 dan Nathan Saliba melalui tendangan bebas pada menit ke-64. Satu gol tambahan lahir dari bunuh diri Mohamed Manai. Pelatih Kanada, Jesse Marsch, sebelumnya meminta para pemain dan suporter untuk membuat Qatar merasakan tekanan. Permintaan itu terwujud dengan sempurna.
Bagi Indonesia, performa Kanada menjadi sinyal bahwa tim-tim non-unggulan kini mampu bersaing di level tertinggi. Dengan persiapan matang dan dukungan suporter, Kanada membuktikan bahwa status tuan rumah bukan jaminan, melainkan momentum. Pelajaran ini relevan bagi sepak bola Indonesia yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2034 atau turnamen besar lainnya.
Kekalahan ini memperpanjang catatan buruk Qatar di Piala Dunia. Sebagai tuan rumah edisi 2022, mereka gagal meraih satu pun kemenangan. Kini, dengan dua kekalahan beruntun di turnamen ini, peluang mereka untuk lolos ke babak gugur hampir mustahil. Sementara itu, Kanada mengoleksi empat poin dari dua laga dan hanya membutuhkan hasil imbang di laga terakhir untuk memastikan tempat di fase knockout.
Laga ini juga menjadi panggung bagi diaspora Kanada yang mayoritas keturunan imigran. David (berdarah Haiti), Larin (Jamaika), dan Buchanan (Ghana) adalah contoh bagaimana keberagaman menjadi kekuatan. Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia dengan naturalisasi pemain keturunan. Jika dikelola baik, strategi ini bisa mempercepat peningkatan kualitas tim nasional.
Dengan satu laga tersisa, Kanada kini berada di puncak klasemen grup. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka mempertahankan performa ini saat menghadapi lawan yang lebih berat di babak gugur? Atau justru Qatar yang akan bangkit dan membuat kejutan? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



