Jepang Siap Jadi Kuda Hitam Piala Dunia 2026: Modal Tak Terkalahkan Lawan Eropa
Baca dalam 60 detik
- Jepang belum terkalahkan dalam sembilan laga terakhir melawan tim Eropa, termasuk kemenangan atas Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022.
- Dengan 19 pemain yang sudah berpengalaman di Qatar 2022, skuad Samurai Blue dinilai lebih matang dan percaya diri untuk menembus perempat final untuk pertama kalinya.
- Ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim membuka peluang lebih besar bagi tim non-unggulan seperti Jepang untuk melaju jauh, didukung oleh kualitas pemain yang merumput di liga top Eropa.

Jepang datang ke Piala Dunia 2026 dengan status tak terkalahkan dalam sembilan pertandingan terakhir melawan tim Eropa—sebuah rekor yang membuat mereka layak diperhitungkan sebagai kuda hitam paling serius di turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini. Tim asuhan Hajime Moriyasu tidak hanya mengandalkan kenangan manis saat menaklukkan Jerman dan Spanyol di fase grup edisi sebelumnya, tetapi juga membawa skuad yang lebih matang secara pengalaman dan mental.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Jepang finis sebagai juara Grup E setelah mengalahkan dua raksasa Eropa tersebut, sebelum akhirnya tersingkir di babak 16 besar melalui adu penalti melawan Kroasia. Kekalahan itu menjadi pukulan telak keempat kalinya bagi Jepang di fase yang sama. Namun, kegagalan beruntun itu justru menjadi bahan bakar bagi generasi sekarang untuk menargetkan langkah lebih jauh: perempat final—pencapaian yang belum pernah diraih dalam delapan partisipasi mereka.
“Bagi saya, mencapai perempat final—sebuah tahap yang belum pernah kami capai atau alami sebelumnya—adalah tujuan utama. Lebih dari itu adalah bonus,” ujar Maya Yoshida, mantan kapten tim yang kini berperan sebagai pemain pendukung non-bertanding untuk memberikan kepemimpinan di belakang layar. Yoshida, yang telah mengoleksi 127 caps, percaya bahwa kedalaman skuad saat ini jauh lebih baik dibandingkan empat tahun lalu.
Keyakinan serupa juga diungkapkan oleh Moriyasu. Jauh sebelum turnamen dimulai, pelatih berusia 57 tahun itu sudah memasang target tinggi: membawa Jepang menjadi yang terbaik di dunia. “Tugas saya adalah mengeluarkan kemampuan terbaik dari para pemain. Kami memang memiliki banyak cedera, tetapi kami juga sudah membuktikan bahwa skuad ini bisa tampil maksimal tanpa tergantung siapa yang bermain,” kata Moriyasu kepada World Soccer Magazine.
Faktor utama di balik peningkatan performa Jepang adalah semakin banyaknya pemain yang berkarier di lima liga top Eropa. Nama-nama seperti Daichi Kamada (Crystal Palace) dan Ao Tanaka (Leeds United) menjadi tulang punggung tim. Menurut Yoshida, pengalaman bermain mingguan melawan pemain level Piala Dunia membuat perbedaan besar. “Dulu saya memulai di VVV Venlo, klub papan bawah Belanda. Sekarang, reputasi pemain Jepang jauh lebih tinggi. Pintu yang dibuka oleh Nakamura, Nakata, dan Ono kini semakin lebar,” kenangnya.
Jepang tergabung di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. Laga perdana melawan Belanda pada Minggu (21:00 BST) akan menjadi ujian awal untuk mengukur sejauh mana kesiapan mereka. Meski di atas kertas Belanda lebih diunggulkan, catatan Jepang melawan tim Eropa memberikan optimisme tersendiri. Mantan striker Inggris Chris Sutton, yang pernah memprediksi kemenangan Jepang atas Jerman di Piala Dunia 2022, kembali memasang Jepang sebagai salah satu tim kejutan. “Mereka punya pemain teknis yang sangat baik dan akan berbahaya melawan siapa pun,” ujarnya.
Ekspansi Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim juga membuka peluang lebih besar bagi tim non-unggulan. Selain Jepang, Meksiko, Ekuador, Turki, dan Korea Selatan juga disebut-sebut sebagai kuda hitam potensial. Namun, dari segi konsistensi dan kualitas skuad, Jepang menonjol sebagai tim yang paling siap untuk melaju jauh. Pertanyaannya, akankah Samurai Blue akhirnya memecahkan kutukan babak 16 besar dan menembus perempat final—atau bahkan lebih?



