Luka Modric dan Kroasia: Kisah Anak Pengungsi yang Menjadi Legenda Sepak Bola Dunia
Baca dalam 60 detik
- Luka Modric, gelandang Real Madrid berusia 40 tahun, akan memimpin Kroasia melawan Inggris di laga pembuka Piala Dunia 2026, menambah panjang daftar prestasinya yang mencakup enam trofi Liga Champions dan Ballon d'Or.
- Perjalanan Modric dari anak pengungsi perang menjadi ikon nasional mencerminkan ketangguhan Kroasia sebagai negara kecil yang konsisten mengejutkan dunia sepak bola dengan prestasi di atas kertas.
- Sistem pembinaan pemain muda Kroasia, terutama melalui Dinamo Zagreb, menjadi kunci keberhasilan melahirkan bakat seperti Josko Gvardiol dan Luka Vuskovic, menawarkan pelajaran bagi pengembangan sepak bola Indonesia.

Luka Modric, gelandang gaek Real Madrid yang genap berusia 40 tahun, kembali menjadi sorotan saat ia memimpin Kroasia menghadapi Inggris pada laga perdana Piala Dunia 2026, Rabu (21:00 BST). Dengan 198 caps dan segudang trofi—enam Liga Champions, satu Ballon d'Or—Modric bukan sekadar pemain, melainkan simbol ketangguhan sebuah bangsa yang terus membalikkan prediksi.
Kisah Modric adalah dongeng klasik anak pengungsi yang berubah menjadi legenda. Ia lahir di tengah konflik pecahnya Yugoslavia, kehilangan kakeknya yang dibunuh pasukan Serbia saat ia berusia enam tahun, dan keluarganya terusir dari rumah. Masa kecil di hotel-hotel pengungsian di Zadar justru menjadi ladang tempat ia mengasah kemampuan menggiring bola bersama anak-anak lain yang bernasib sama. "Saya tidak tahu dia akan menjadi Luka Modric yang kita kenal sekarang," kenang Romeo Jozak, mantan pelatihnya di tim muda Dinamo Zagreb, yang dulu sempat bertengkar dengan Modric gara-gara rambut panjangnya.
Jozak, yang kini menjadi direktur teknis Sharjah FC, adalah arsitek di balik sistem pembinaan pemain muda Kroasia. Saat Modric bergabung dengan Dinamo pada usia 16 tahun, ia bukanlah prospek teratas. "Dia pendek, kurus, dan tidak ada yang bisa bilang dia akan mendominasi dunia," ujar Jozak. Namun, tekad baja dan etos kerja keras membuat Modric bertahan. Pinjaman ke Zrinjski Mostar di Bosnia membuatnya semakin tangguh. "Dia seperti bull terrier, ingin merebut setiap bola dan duel," tambah Jozak.
Keberhasilan Kroasia tidak lepas dari sistem pembinaan yang dibangun Jozak semasa menjadi direktur teknis Federasi Sepak Bola Kroasia (CFF) antara 2013 dan 2017. Ia menciptakan "jembatan" antara klub-klub lokal dan tim nasional, memastikan setiap akademi merasa dihargai. Di Dinamo, ia menumbuhkan persaingan internal yang ketat. "Kamu tidak boleh kehilangan bola karena pemain lain langsung mengambil alih. Itu tekanan yang membuatmu lebih baik setiap hari," jelasnya. Hasilnya, pemain seperti Josko Gvardiol—yang kini menjadi bek andalan Manchester City—dikembangkan sebagai gelandang atau nomor 10 sebelum akhirnya tumbuh tinggi dan cepat.
Pelatih Zlatko Dalic, yang menangani Kroasia sejak 2017, juga mendapat pujian dari Jozak. "Dia memahami hubungan emosional dan sosial. Dia tahu kapan harus menekan, kapan harus memeluk pemain. Di Kroasia, kami sangat emosional dan sosial. Jika mereka bersatu, itu kekuatan besar," kata Jozak. Dalic berhasil membawa Kroasia ke final dan semifinal dalam dua turnamen pertamanya, sebuah pencapaian yang sebelumnya terasa mustahil setelah era emas 1998.
Bagi Indonesia, kisah Kroasia menawarkan pelajaran berharga. Negara dengan populasi kecil mampu bersaing di level tertinggi berkat investasi jangka panjang pada pembinaan usia muda, kompetisi internal yang ketat, dan rasa memiliki yang kuat terhadap tim nasional. Sistem akademi yang terintegrasi, seperti yang dilakukan Dinamo Zagreb, bisa menjadi cetak biru bagi klub-klub Indonesia yang ingin melahirkan bakat kelas dunia. Pertanyaannya, mampukah Indonesia membangun ekosistem serupa dalam satu atau dua dekade ke depan?



