Polres Jakpus Ajak Warga Nobar Piala Dunia 2026, Perkuat Silaturahmi
Baca dalam 60 detik
- Polres Metro Jakarta Pusat menggelar nonton bareng Piala Dunia 2026 laga Swiss vs Qatar pada Minggu dini hari, dihadiri puluhan warga.
- Kapolres Jakpus menyebut kegiatan ini sebagai ajang mempererat hubungan Polri dengan masyarakat di tengah euforia sepak bola dunia.
- Pengamanan ketat dilakukan selama acara, dan situasi dilaporkan aman serta kondusif tanpa gangguan berarti.
Polres Metro Jakarta Pusat menggelar nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 antara Swiss dan Qatar di halaman markas komando (Mako) mereka, Minggu (14/6/2026) dini hari. Kegiatan yang dimulai pukul 02.00 WIB ini menjadi momen kebersamaan antara aparat kepolisian dan warga sekitar, sekaligus menunjukkan sisi humanis institusi keamanan.
Dalam suasana yang santai namun tetap terjaga, puluhan warga duduk lesehan di depan videotron raksasa yang disediakan Polres. Mereka menyaksikan laga yang berakhir dengan kemenangan Swiss 2-0 atas Qatar. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Dr. Reynold E.P. Hutagalung, hadir langsung dan berbaur dengan masyarakat. Menurutnya, nobar ini bukan sekadar tontonan, melainkan wadah silaturahmi yang efektif.
โKami ingin menghadirkan suasana yang aman, nyaman, dan positif bagi warga. Nobar ini menjadi sarana mempererat komunikasi dan kedekatan Polri dengan masyarakat,โ ujar Reynold dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa kegiatan serupa akan dipertimbangkan untuk pertandingan-pertandingan besar selanjutnya, terutama jika tim nasional Indonesia berpartisipasi.
Di balik kemeriahan nobar, Polres Metro Jakarta Pusat tetap menjalankan tugas pengamanan secara profesional. Personel yang berjaga memastikan tidak ada kerumunan yang berpotensi mengganggu ketertiban. Sepanjang acara, tidak dilaporkan adanya insiden keamanan. Reynold mengapresiasi kesadaran warga yang turut menjaga ketertiban bersama.
Kegiatan nobar ini juga menjadi cermin bagaimana institusi kepolisian beradaptasi dengan budaya populer untuk mendekatkan diri pada masyarakat. Di era digital, interaksi langsung seperti ini dinilai lebih efektif membangun kepercayaan dibandingkan sekadar kampanye di media sosial. Apalagi, Piala Dunia selalu memiliki daya tarik lintas usia dan latar belakang.
Ke depan, Polres Metro Jakarta Pusat berencana menggelar nobar serupa untuk partai-partai krusial, termasuk babak semifinal dan final. Pertanyaannya, apakah inisiatif ini akan diadopsi oleh polres lain di Indonesia sebagai model pendekatan komunitas? Jika ya, bukan tidak mungkin nobar Piala Dunia menjadi tradisi baru yang memperkuat ikatan antara aparat dan warga.



